Dato Sri Tahir mengungkapkan kekagumannya pada Prof Satyanegara, ahli bedah saraf yang telah menolong ribuan pasien sejak kembali ke Indonesia pada 1972 lalu
oleh: Setiawan Liu
Di sebuah ruangan yang dipenuhi senyum hangat dan deretan wajah-wajah yang datang memberi hormat, Dato Sri Tahir berdiri memandang sosok yang telah ia kagumi sejak puluhan tahun lalu.
Acara peluncuran buku Ilmu Kedokteran Masa Depan sekaligus perayaan ulang tahun ke-87 Prof Satyanegara baginya bukan sekadar seremoni melainkan momen untuk mengenang perjalanan panjang seorang ahli bedah saraf yang diam-diam telah menyelamatkan hidup ribuan orang.

“Saya respect dengan beliau…” ucap Tahir, suaranya pelan namun penuh penekanan. Kalimat itu mengambang di udara, seolah mewakili rasa hormat banyak orang yang pernah merasakan sentuhan tangan dingin sang profesor.
Sejak pulang dari Jepang pada September 1972, Prof Satyanegara mulai menapaki karier panjang di dunia yang jarang disentuh manusia, dunia yang berhubungan dengan otak, saraf, dan garis tipis antara hidup dan kehilangan harapan. Dan sejak itu pula, beribu-ribu pasien menemukan kembali ruang hidup yang sempat redup.
Di antara riuh hadirin, para tokoh dari berbagai profesi dan generasi, Tahir kembali mengingat satu masa yang tak pernah ia lupakan. Tiga dekade silam, salah satu sepupunya terbaring kritis. Koma. Kondisinya genting. “Otak sepupu saya dibuka…” kenang Tahir, menatap jauh, seolah kembali melihat ruang operasi yang penuh ketegangan.
Saat itu, Prof Satyanegara yang masih berkarya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) mengambil alih penanganan. Bedah saraf adalah langkah terakhir, langkah yang tak jarang lebih mirip perjudian medis.
Namun keahlian sang profesor yang telah diasah bertahun-tahun menjadi penentu. “Berkat beliau, sepupu saya bisa sembuh,” ucap Tahir, tersenyum kecil. “Itu sekitar 30 tahun lalu. Saya tidak pernah lupa.”
Dalam dunia kedokteran, nama Prof Satyanegara sering dihubungkan dengan kepiawaiannya melakukan tindakan bedah saraf. Namun Tahir menilai kemampuan itu hanyalah sebagian kecil dari personal sang profesor. “Produktivitas beliau luar biasa. Tidak hanya sebatas ‘membuka otak’, tapi juga menulis,” ujar Tahir, yang dikenal sebagai pengusaha dan filantropis.
Di usia 87 tahun, Profesor Satyanegara masih menulis, berkarya, dan memberi pengetahuan. Baginya, ilmu tidak boleh berhenti mengalir, sama seperti tanggung jawab seorang tabib untuk terus membuka jalan bagi mereka yang membutuhkan harapan.
Perjalanan hidupnya tidak hanya berkutat pada meja operasi. Tahun 1988 hingga 1998, ia dipercaya memimpin RSPP pada masa-masa penuh tantangan. Pada periode itu ia bukan hanya bertugas menyembuhkan pasien, tetapi juga memikirkan bagaimana sebuah rumah sakit bisa bergerak lebih efisien, lebih manusiawi, lebih bermanfaat.
Ia sering menghabiskan waktu memikirkan satu hal sederhana yang menjadi fondasi dedikasinya: Bagaimana memimpin rumah sakit agar lebih banyak orang bisa sembuh? Sebuah pertanyaan yang terus ia bawa bahkan hingga usianya hampir menyentuh sembilan dekade.
Bagi Tahir, keberadaan Prof. Satyanegara adalah anugerah bagi dunia kedokteran Indonesia. “Sekarang usianya 87 tahun… itu berkah,” ujar pria kelahiran 1952 itu. “Beliau masih bisa memberi sumbangsih pada kedokteran modern. Harapan saya, beliau panjang umur sampai 120 tahun.”
Di akhir acara, buku yang belum sempat ia baca sudah terselip di tangannya. “Nanti saya pasti baca,” katanya, tersenyum. Di tengah lampu kamera dan riuh ucapan selamat, Prof Satyanegara duduk dengan tenang.
Sosok yang tak lagi muda itu tetap memancarkan keteduhan seorang dokter yang telah mengabdikan hidupnya demi dua hal sederhana, menyelamatkan manusia, dan membuat hidup mereka sedikit lebih baik. Dan bagi banyak orang, termasuk Tahir, itu lebih dari cukup untuk menyebutnya legenda.

