Oleh: Adi Suparto
Dari Penentu Aturan Menjadi Pihak yang Harus Menyesuaikan
Puluhan tahun AS bergerak di Timur Tengah seolah kawasan miliknya sendiri: buat kebijakan, tentukan sekutu-musuh, atur harga minyak. Namun di tengah ketegangan Selat Hormuz dan draf kesepakatan yang belum ditandatangani Trump, satu kenyataan tak terbantahkan: masa dominasi tunggal telah berakhir. AS tak lagi berkuasa mutlak, kepongahannya memudar.
Langkah Washington kini bukan lagi memberi perintah, melainkan menawar, menunda keputusan, dan terpaksa mengikuti ritme pihak lain.
POLITIK: WIBAWA RUNTUH, TERJEBAK KEPENTINGAN DALAM NEGERI
Dulu AS yang menentukan syarat, kini AS harus memenuhi keinginan Iran dan negara Teluk: bersedia cabut sanksi, janji tidak serang, dan korbankan sekutu lama demi ekonomi global.
Hambatan terbesar datang dari dalam. Parlemen, Partai Demokrat, bahkan pendukung sendiri mengecam keras. Bagi publik AS, mengalah pada Iran adalah luka harga diri bangsa. Trump tunda tanda tangan bukan sekadar soal isi, tapi pertarungan politik: enggan dicap pemimpin yang “menyerah”.
Dampak paling berat: sekutu dunia mulai bertanya, “Kalau Israel dikorbankan demi minyak, giliran siapa lagi nanti?”. Kepercayaan puluhan tahun runtuh. AS tak lagi jadi pelindung andal, melainkan negara yang mengutamakan diri sendiri. Kekuatan politiknya kini terikat.
EKONOMI: SENJATA KEKUASAAN YANG TUMPUL
Dulu kendali energi adalah senjata utama AS; Washington yang atur harga dan pasokan berbasis dolar. Sekarang? Kelancaran dan harga ada di tangan Teheran. Selama selat belum normal dan perjanjian belum sah, AS hanya bisa menahan napas dan cemas.
Posisi dolar mulai tergoyahkan; banyak negara beralih mata uang lain, takut bergantung pada sistem tak stabil. Beban militer pun dikurangi, rakyat AS makin tolak biaya mahal untuk konflik tak berujung. Dulu AS tekan ekonomi negara lain; kini ekonomi dunia dan suara rakyatlah yang tekan pemerintah agar damai.
KEKUASAAN: MILITER KUAT, TAPI TANGAN TERIKAT
Militer AS masih terkuat, tapi tak berdaya. Realita pahit dipahami semua pihak: “Serang Iran, mereka tutup selat; ekonomi dunia hancur, rakyat menderita, AS yang disalahkan”
AS berubah drastis: dari polisi dunia jadi penengah hati-hati; dari penentu nasib jadi yang harus menyesuaikan. Kekuasaannya dibatasi aturan internasional dan kepentingan bersama. Senjata canggih tak lagi selesaikan segalanya.
Inilah sejarah berjalan: AS turun perlahan namun pasti dari singgasana kekuasaan tunggal.
“Kekuatan sejati bukan lagi seberapa banyak kapal perang yang dimiliki, tapi seberapa banyak negara yang rela mengikuti kemauan Anda. Hari itu, AS menyadari: banyak yang berhenti mengikuti”

