Jakarta — Javanewsonline.co.id | Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) dan Chengdu New International Land-Sea Trade Corridor (ILSTC) menjajaki peluang kerja sama dalam penguatan sistem rantai pasok global yang efisien, terintegrasi, dan adaptif terhadap tantangan distribusi internasional.

(kiri – kanan); Sigit Purnomo, Lai Zhougang, Zoey,
Raymond Liang, Mahendra Rianto, Armieta (ALI)

Pertemuan yang berlangsung di Jakarta itu membahas pengembangan jaringan logistik multimoda berbasis railway to sea dan railway to air sebagai alternatif distribusi barang di tengah dinamika geopolitik global, termasuk memanasnya situasi di Selat Hormuz.

Ketua ALI Mahendra Rianto mengatakan penguatan kompetensi dan jaringan logistik menjadi fokus utama dalam kerja sama tersebut.

“Kami, terutama Asosiasi Logistik Indonesia, tetap mengedepankan competency dan kompetensi mereka, yakni jasa logistic railway to sea dan railway to air logistics network,” ujar Mahendra.

Para pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam,
tiga perwakilan ILSTC yakni Lai Zhougang
(Chengdu International Railway Port Investment &
Development Co., Ltd.),
Zoey (Supply Chain Business Department)
dan Raymond Liang (assistant manager
of container management department)
membahas mengenai desain dan pengelolaan
system logistic untuk pengiriman global.

Dalam pertemuan sekitar satu setengah jam itu, ILSTC diwakili Lai Zhougang dari Chengdu International Railway Port Investment & Development Co., Ltd., Zoey dari Supply Chain Business Department, serta Raymond Liang selaku Assistant Manager of Container Management Department.

Mereka memaparkan desain dan pengelolaan sistem logistik global berbasis jaringan multimoda yang berpusat di Chengdu, China. Kota tersebut disebut sebagai salah satu logistics hub terbesar yang mampu mendukung distribusi ekspor-impor secara efektif.

Lai Zhougang menilai kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan dapat memperkuat ketahanan rantai pasok di kawasan.

“Kami melihat prospek kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan para pemangku kepentingan, sehingga rantai pasok bisa semakin adaptif, tangguh, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” katanya.

Mahendra menjelaskan, Indonesia perlu mencari alternatif jalur distribusi logistik di tengah tingginya risiko pengiriman laut akibat konflik geopolitik global. Namun demikian, ALI masih mengkaji efektivitas biaya, kualitas layanan, dan waktu pengiriman dari sistem logistik ILSTC.

Menurut dia, salah satu tantangan dalam distribusi multimoda adalah risiko multiple handling atau bongkar muat berulang yang dapat meningkatkan potensi kerusakan barang.

“Kita perlu bandingkan cost, quality, dan delivery time. Kalau terlalu sering bongkar muat, ada risiko barang rusak. Itu yang masih kami pelajari dari sistem ILSTC,” ujar Mahendra.

ALI juga melihat peluang pemanfaatan jaringan ILSTC di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Port Klang, Malaysia, yang selama ini menjadi salah satu pelabuhan utama di kawasan ASEAN.

Selain itu, pengiriman logistik dari Thailand menuju Chengdu yang memakan waktu sekitar 15 hari juga menjadi perhatian dalam pembahasan efektivitas rantai pasok regional.

Mahendra menambahkan, konflik di Selat Hormuz turut memengaruhi biaya logistik global karena perusahaan asuransi cenderung menghindari risiko pengiriman di wilayah konflik. Akibatnya, biaya tambahan seperti war surcharge, bunker surcharge, dan insurance surcharge menjadi tidak terhindarkan.

“Kondisi geopolitik saat ini membuat biaya logistik laut meningkat. Sementara jalur udara juga masih sangat mahal, sehingga alternatif jaringan logistik menjadi penting untuk dipertimbangkan,” katanya. (Liu)