Desas-desus beredar tentang mantan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano (BTM) yang disebut tak memberdayakan anak Tabi. Namun, fakta berbicara: banyak putra-putri Tabi justru menduduki jabatan strategis selama kepemimpinannya.

Oleh: PAM

Di sudut-sudut Jayapura, bisik-bisik itu sempat beredar kencang. Katanya, Benhur Tomi Mano, atau yang akrab disapa BTM, selama dua periode menjabat Wali Kota, tak pernah benar-benar ngaderin anak-anak asli Port Numbay, alias Anak Tabi.

Narasi ini, yang salah satunya disuarakan oleh akun macam “Tanta Doyo dan Hendrik Yance Udam,” seakan jadi bara yang siap membakar. Bahkan, akun-akun palsu seperti Serua Alhamidi dan tim MDF ikut nimbrung, seolah memperkuat cerita itu. Tapi, begitulah hoaks. Keras suaranya, tapi gampang buyar di hadapkan oleh kenyataan.

Faktanya? Jauh panggang dari api! Selama kepemimpinan BTM, pintu justru terbuka lebar buat putra-putri Tabi. Bayangkan saja, banyak dari mereka yang kini menduduki posisi strategis, mulai dari Sekretaris Daerah sampai deretan Kepala Dinas. Ini bukan cuma omong kosong, ini bukti nyata kalau BTM memang ingin membangun Jayapura bareng-bareng.

Seorang sumber yang enggan disebut namanya, yang ditemui Javanewsonline.co.id, sampai bilang, “Ini jadi bukti nyata kalau BTM bersama-sama membangun Kota Jayapura.” Tak cuma Anak Tabi, mereka yang berasal dari daerah lain di Papua, bahkan dari Sabang sampai Merauke, juga diberi kesempatan yang sama untuk unjuk gigi dan berkarya.

Nah, bicara soal BTM, tak lengkap kalau tak menyinggung sosok Charles Kossay (CK) sebagai wakilnya. Keduanya ini memang paket komplit. Dijuluki sebagai birokrat handal sekaligus politisi hebat, perjalanan karier mereka memang patut diacungi jempol. Mereka meniti tangga dari bawah, berkarir sebagai ASN, lalu terjun ke kancah politik di partai besar seperti PDI Perjuangan dan Golkar.

BTM-CK, yang sering diplesetkan bukan “anak manja konstitusi”, sudah membuktikan dedikasi mereka dalam membangun Papua. Dan ketika nanti giliran mereka berkarya di tingkat provinsi, diyakini mereka akan tetap merangkul orang-orang berpengalaman.

Entah itu dari Tabi, Saireri, atau pun Nusantara. Mereka ini, memang jenis pemimpin yang bicara lewat fakta dan kenyataan, serta membangun negeri dengan karya nyata, bukan sekadar narasi belaka. (*)