BANDUNG – Javanewsonline.co.id | Pagi itu, suasana di Kota Bandung begitu cerah. Matahari memancarkan sinarnya yang hangat, menerangi setiap sudut jalan yang dilalui.

Di dalam Hotel Savoy Homann yang megah, kami, para pengurus Serikat Perusahaan Pers (SPS) dari Banten dan daerah lainnya, berkumpul dengan penuh antusiasme untuk merayakan HUT SPS yang ke-78.

Hotel ini bukan sekadar tempat menginap dan berkegiatan, ia adalah saksi bisu dari perjalanan panjang sejarah, dibangun pada tahun 1880 oleh A. Homann, seorang warga negara Jerman. Bangunannya yang kokoh dan bersejarah ini sering kali menjadi lokasi pertemuan penting, termasuk bagi kami, para pegiat media.

Dari hari pertama acara hingga penutupan, kami mengikuti setiap rangkaian dengan serius. Sambutan Ketua Umum SPS, Januar P Ruspita, membuat kami semakin bersemangat. Ia menekankan pentingnya keberadaan media cetak di tengah gempuran teknologi digital. “Media konvensional harus tetap relevan,” ujarnya, dan kami semua mengangguk setuju. Waketum Syamsudin H Sutarto juga memberikan pandangannya, mengajak kami untuk merenungkan tantangan yang harus dihadapi ke depan.

Hari itu, dialog antara peserta dan narasumber menjadi momen yang sangat berharga. Diskusi mengalir, dan setiap pendapat saling melengkapi, membangun pemahaman tentang keberpihakan terhadap media tradisional setelah terbitnya Perpres tentang Publisher Rights.

Saya mendengarkan dengan seksama, merasa terinspirasi oleh semangat dan dedikasi teman-teman dari seluruh Indonesia.

Jumat siang, setelah sholat Jum’at, acara dilanjutkan dengan Rakernas dan pelantikan, serta pemberian penghargaan kepada relasi-relasi yang selalu mendukung kegiatan SPS dan kepada media yang berprestasi.

Melihat senyum di wajah para penerima penghargaan, hati saya dipenuhi harapan. Apakah suatu hari nanti, media kecil kami juga bisa menerima penghargaan seperti itu?

Momen yang paling menyentuh hati adalah ketika kami merayakan Milad Java News yang ke-9, bertepatan dengan Perayaan HUT SPS. Campur aduk rasa bahagia, bangga, dan haru menyelimuti saya. Dulu, saya hanya bisa melihat ke arah media-media besar seperti Jawa Pos, Tempo, dan Kompas dengan rasa kagum yang mendalam. Kini, saya duduk setara dengan mereka, walaupun media kami masih kecil, dalam hati, saya berharap suatu hari media kami juga akan menjadi bagian dari sejarah yang lebih besar.

Selama sembilan tahun perjalanan kami, kami telah melalui banyak hal. Setiap penolakan, setiap kegagalan, dan setiap keberhasilan membentuk karakter kami.

Kami belajar untuk bersikap tegar, menghadapi tantangan dengan semangat yang tidak pernah padam. Setiap detik, setiap kenangan, baik suka maupun duka, telah menjadi pelajaran berharga.

Ketika acara berakhir, kami berkumpul untuk sesi foto bersama. Senyuman di wajah kami merepresentasikan harapan dan impian yang belum usai. Dalam momen itu, saya bertekad untuk membawa pulang kenangan indah ini, sebagai bekal untuk kemajuan media cetak kami masing-masing. Saya percaya, dengan kerja keras dan kolaborasi, media cetak kami akan semakin diperhitungkan di masa depan.

Ketika langkah kami meninggalkan hotel bersejarah itu, saya merasa ada cahaya baru dalam diri saya. Momen ini bukan hanya tentang merayakan, tetapi juga tentang menyusun langkah ke depan.

Di tengah semua tantangan, kami akan terus berjuang, menjaga agar media cetak tetap hidup dan relevan, untuk masyarakat dan generasi mendatang. (fah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.