Kabut pagi masih menggantung tipis di atas Telaga Sarangan ketika langkah-langkah warga mulai beriringan. Dari kantor desa, arak-arakan sesaji bergerak perlahan, diapit warna-warni busana adat dan denting kesenian tradisional. Tumpeng menjulang, hasil bumi tersusun rapi simbol rasa syukur yang akan segera dititipkan pada telaga.
Bagi masyarakat Sarangan, ritual Labuhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ingatan kolektif yang terus dijaga. Setiap tahun, warga kembali menapak jejak leluhur, membawa doa dan harapan ke perairan tenang di lereng Lawu itu.
Karnaval budaya mengiringi prosesi. Anak-anak, orang tua, hingga pemuda desa larut dalam irama tradisi. Ada tari-tarian, busana adat, dan kreasi warga yang memadukan pakem lama dengan sentuhan baru. Telaga Sarangan pun berubah menjadi panggung kebudayaan terbuka.
Setibanya di bibir telaga, suasana mendadak hening. Tokoh adat memimpin doa bersama. Tangan-tangan terkatup, kepala tertunduk. Doa dipanjatkan agar masyarakat diberi keselamatan, ketentraman, dan rezeki yang cukup. Alam dan manusia, dalam sejenak hening itu, seolah saling menyapa.
Puncak ritual terjadi saat sesaji dilarung ke tengah telaga. Perahu bergerak pelan, membawa tumpeng dan hasil bumi ke perairan yang dipercaya menyimpan makna spiritual. Larung bukan sekadar melepas sesaji, melainkan simbol penyerahan diri manusia kepada Sang Pencipta—sekaligus ikhtiar menjaga keseimbangan dengan alam.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, Joko Trihono, menyebut Labuhan Sarangan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Penetapan itu, kata dia, menjadi pengakuan atas nilai sejarah dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
“Labuhan Sarangan tidak hanya ritual adat, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan dan melestarikan budaya lokal. Harapannya, ke depan bisa masuk kalender event nasional,” ujar Joko.
Di balik doa dan sesaji, tersimpan harapan lain: agar Telaga Sarangan tetap lestari, budaya terus hidup, dan masyarakatnya tak tercerabut dari akar. Bagi warga Sarangan, Labuhan adalah pengingat bahwa hidup harus selalu selaras dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan. (Ren)

