Lumajang – Javanewsonline.co.id | Setelah tertunda selama setahun, Temu Kangen Alumni Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Jember angkatan 1975–1978 akhirnya kembali digelar di Lumajang. Terkait dengan erupsi gunung Semeru yang banyak memakan korban, maka secara spontan peserta reuni berpartisipasi untuk santunan sosial.
Sungguh membanggakan, ternyata semua peserta antusias mereka memberi sumbangan sukarela dan berlangsung hangat. Sebanyak 40 dari sekitar 50 alumni hadir dalam acara reuni yang dipenuhi suasana nostalgia dan kekeluargaan. Meski rata-rata telah berusia 70 tahun, para alumni tetap menunjukkan semangat untuk berkumpul dan mengenang masa-masa kuliah mereka.

Di tengah erupsi gunung semeru rangkaian acara, panitia juga menayangkan dokumentasi perjalanan para alumni selama masa kuliah hingga kiprah mereka di dunia pendidikan. Tayangan ini membuat suasana semakin haru, karena banyak kenangan yang kembali muncul mulai dari kegiatan kampus, dosen-dosen legendaris, hingga momen-momen kebersamaan yang sulit terlupakan. Beberapa alumni terlihat saling berpelukan saat mengenang sahabat-sahabat mereka yang sudah berpulang.
Ketua Ikatan Alumni FIP UNEJ, Prof Rudy Sumiharsono, mengungkapkan bahwa peserta reuni tahun 2025 datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur, bahkan ada yang hadir dari Purwokerto. “Saat ini suasana gayeng, penuh cerita pengalaman hidup. Ada yang datang bersama pasangan, ada yang hadir sendirian demi bertemu teman kuliah 45 tahun silam,” ujarnya.

Cerita-cerita ringan hingga mendalam mengenai kehidupan semasa kuliah kembali mengalir, menciptakan suasana penuh keakraban. Ikatan emosional yang telah terjalin sejak masa kuliah terasa kembali kuat dalam pertemuan yang digelar setelah puluhan tahun berlalu.
Sekretaris Ikatan Alumni, Tri Cahyono, menyampaikan kesan bahwa reuni menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang kampus Tegal Boto. “Reuni menguatkan persaudaraan dan membangkitkan nostalgia. Mengesankan dan membahagiakan,” katanya.

Sementara itu, Adi Suparto mengingatkan pentingnya menjaga tali silaturahmi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup para alumni. Ia menekankan bahwa momen seperti ini menjadi pengingat akan nilai persaudaraan yang harus terus dirawat.
Suasana keakraban semakin terasa saat para alumni menikmati makan siang bersama di Kafe Alka, yang dilanjutkan dengan kegiatan saling bertukar kado. Kegiatan ini menjadi simbol kehangatan sekaligus kenangan baru yang mempererat ikatan di antara mereka. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, diiringi alunan lagu-lagu legendaris seperti “Kapan-Kapan” dan “Kemesraan”, yang kian menghidupkan nuansa nostalgia masa lalu.
Makna Reuni untuk Para Alumni
Bagi para peserta, reuni bukan sekadar pertemuan sosial, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui obrolan dan cerita-cerita perjalanan hidup setelah lulus, para alumni saling memberi inspirasi, motivasi, dan dukungan. Reuni ini menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kolaborasi, dan semangat untuk terus berkembang.
Acara Temu Kangen Alumni FIP UNEJ angkatan 75–78 tahun ini menjadi pengingat bahwa memori masa kuliah di kampus Tegal Boto tetap hidup di hati para alumninya. Momen kebersamaan tersebut kembali menghangatkan kenangan 40 tahun lalu dan menegaskan bahwa persaudaraan yang terjalin tetap menyala sepanjang perjalanan hidup mereka. (Adi)

