Serang – Javanewsonline.co.id | Banten merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan bencana. Provinsi ini terletak di jalur pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, sehingga rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Selain itu, Banten juga memiliki wilayah pesisir yang luas, sehingga rentan terhadap bencana banjir dan abrasi.
Data BNPB menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1815-2016, sebanyak 42% kerusakan bangunan disebabkan oleh tsunami dan gempa bumi. Dari segi korban bencana, sebanyak 75% kematian dikarenakan tertimpa reruntuhan bangunan.

Permen PUPR No.10/2014 tentang Pedoman Mitigasi Bencana Alam Bidang Perumahan dan Permukiman, mengamanatkan perlunya desain perumahan dan permukiman tangguh bencana pada daerah rawan bencana. Oleh karenanya, penting mengetahui karakteristik bangunan rumah yang tahan terhadap bencana geologi agar meminimalisir kehilangan jiwa maupun harta benda.
Berdasarkan penjelasan Suhadi, Kabid Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Banten, karakteristik bangunan rumah yang tangguh terhadap tsunami dan gempa bumi adalah sebagai berikut:

Karakteristik bangunan rumah yang tangguh terhadap tsunami:
• Pondasi tiang yang dalam: Kekuatan hidrolik tsunami dapat mengubah bangunan beton yang kokoh menjadi miring sehingga diperlukan pondasi yang dalam untuk mengatasi hal tersebut.
• Material bangunan berupa beton bertulang atau komposit beton-baja: Material bangunan yang kuat dan tahan terhadap benturan diperlukan untuk menahan kekuatan gelombang tsunami.
• Tidak ada obyek bergerak disekitar bangunan: Obyek bergerak di sekitar bangunan dapat meningkatkan resiko kerusakan bangunan akibat tsunami.
• Tinggi bangunan lebih dari tinggi genangan maksimum: Bangunan yang lebih tinggi dari tinggi genangan maksimum akan lebih aman dari dampak tsunami.
• Area terbuka pada lantai dasar: Area terbuka pada lantai dasar akan memudahkan air untuk mengalir dan mengurangi tekanan pada bangunan.
• Sisi panjang bangunan yang cenderung tegak lurus terhadap garis pantai: Posisi bangunan yang tegak lurus terhadap garis pantai akan mengurangi risiko benturan langsung dengan gelombang tsunami.
• Bersifat daktail: Bangunan yang bersifat daktail akan tetap kuat berdiri walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan karena beban yang sangat berat.
• Mendesain sambungan konstruksi bangunan yang mampu meredam tekanan: Sambungan konstruksi bangunan yang mampu meredam tekanan akan mengurangi risiko kerusakan akibat benturan atau getaran.
Karakteristik bangunan rumah yang tangguh terhadap gempa bumi:
• Struktur terbuat dari beton bertulang, baja, dan kayu dengan perkuatan silang: Struktur bangunan yang kuat dan kokoh diperlukan untuk menahan kekuatan gempa bumi.
• Pondasi ditempatkan pada tanah keras dengan penampang melintang yang sistematis: Pondasi yang kokoh dan stabil diperlukan untuk menopang struktur bangunan.
• Pondasi dibuat menerus mengikuti panjang denah bangunan dengan kedalaman yang sama: Pondasi yang menerus dan seragam akan mengurangi risiko kerusakan akibat gempa bumi.
• Untuk rumah panggung yang berada di tanah keras, maka masing-masing tiang harus terikat: Tiang rumah panggung yang terikat akan mengurangi risiko roboh akibat gempa bumi.
• Lokasi bangunan: Lokasi bangunan yang jauh dari zona gempa akan lebih aman dari dampak gempa bumi.
Selain karakteristik-karakteristik tersebut, terdapat beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam membangun bangunan tahan tsunami dan gempa bumi, yaitu:
• Konstruksi bangunan yang sederhana dan simetris: Konstruksi bangunan yang sederhana dan simetris akan lebih mudah menyerap getaran gempa bumi.
• Tinggi bangunan tidak melebihi empat kali lebar bangunan: Bangunan yang terlalu tinggi akan lebih rentan terhadap gempa bumi.
• Bobot atau volume bangunan yang ringan: Bangunan yang ringan akan lebih mudah menyerap getaran gempa bumi.
• Penggunaan material yang berkualitas: Material bangunan yang berkualitas akan meningkatkan kekuatan dan ketahanan bangunan terhadap bencana.
• Pemeliharaan bangunan secara berkala: Pemeliharaan bangunan secara berkala akan menjaga kondisi bangunan tetap baik dan tahan terhadap bencana.
Dengan menerapkan karakteristik dan hal-hal yang perlu diperhatikan tersebut, diharapkan bangunan rumah dapat lebih tangguh terhadap tsunami dan gempa bumi. Hal ini akan dapat mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian material akibat bencana tersebut.
Oleh karena itu, penting untuk membangun bangunan yang tahan bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan material yang kuat dan tahan gempa, serta menerapkan struktur bangunan yang kokoh dan simetris. Selain itu, juga perlu untuk menghindari membangun rumah di daerah yang rawan longsor dan banjir.
Dalam menghadapi ancaman bencana, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun rumah tahan bencana.
Pemprov Banten telah membangun rumah tahan bencana di beberapa daerah rawan bencana di Banten, seperti di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kota Serang. Pembangunan rumah tahan bencana ini dilakukan melalui program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS).
Selain membangun rumah tahan bencana, Pemprov Banten juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya membangun rumah tahan bencana. Sosialisasi dan edukasi ini dilakukan melalui berbagai media, seperti media massa, media sosial, dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemprov Banten tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di Banten. Dengan demikian, diharapkan korban jiwa dan kerugian akibat bencana di Banten dapat diminimalisir.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun rumah tahan bencana:
• Gunakan material yang kuat dan tahan gempa, seperti beton, batu bata, dan baja.
• Bangun rumah dengan struktur yang kokoh dan simetris.
• Tinggi bangunan tidak melebihi empat kali lebar bangunan.
• Gunakan pondasi yang kuat dan sesuai dengan kondisi tanah.
• Hindari membangun rumah di daerah yang rawan longsor dan banjir.
Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, kita dapat membangun rumah yang tahan bencana dan aman untuk dihuni. (Adv)

