Oleh: Timan

“Malam itu, langit di atas Pelabuhan Merak menjadi saksi bisu ketika nostalgia dan semangat persatuan menyatu dalam Parade Musik Lawas bertema “Merak Bangkit Bersatu.” Di tengah dentuman bass dan melodi yang mengalun, puluhan penggemar musik era 80-an dan 90-an berkumpul di Mall Sosoro Eksekutif, merayakan kekuatan musik yang tak lekang oleh waktu

Ketika matahari mulai tenggelam di balik horizon, pelabuhan Merak yang biasanya sibuk dengan aktivitas penyeberangan tiba-tiba berubah menjadi panggung nostalgia. Puluhan penggemar musik, dari yang muda hingga yang beruban, berkumpul di Mall Sosoro Eksekutif Pelabuhan Merak Tamansari, Pulomerak, Cilegon.

Mereka bukan sekadar pengunjung, melainkan penikmat musik era 80-an dan 90-an yang datang untuk merayakan Parade Musik Lawas bertema “Merak Bangkit Bersatu”, yang digagas oleh Ikatan Musisi Merak (IMM).

Suasana sore itu penuh dengan antusiasme. Band-band legendaris seperti CAROX, PATEKONG, dan DNTCC mulai membawakan lagu-lagu hits yang dulu sering menjadi soundtrack kehidupan.

Dari dentuman bass yang menggema hingga melodi gitar yang mengalun, setiap nada yang dimainkan seolah membawa penonton kembali ke masa-masa kejayaan musik Indonesia.

Mereka yang hadir tak bisa menahan diri untuk ikut bernyanyi, seolah ingin menghidupkan kembali kenangan masa lalu yang penuh warna.

Namun, yang membuat parade ini begitu istimewa bukan hanya musiknya, melainkan semangat yang menyatu di antara penonton dan musisi. “Semangat musik tidak pernah padam,” kata seorang pengunjung dengan mata yang berbinar-binar.

“Malam ini kita bangkit bersatu untuk merayakan kekuatan musik ini.”jelasnya.

Tidak hanya menghibur, acara ini juga memberikan warna tersendiri bagi pelabuhan yang biasanya hanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk perjalanan. Para penumpang yang sedang menunggu kapal merasa terhibur oleh alunan musik yang mengalun dari panggung.

Bahkan, beberapa di antaranya terlihat asyik menikmati suasana, menari kecil di sudut-sudut area pelabuhan yang telah disulap menjadi tempat yang lebih hangat dan santai.

Mad Suryadi, atau yang akrab disapa Moa, sebagai Wakil IMM sekaligus penyelenggara acara, dengan bangga mengungkapkan bahwa parade ini bukan hanya tentang nostalgia. “Kolaborasi antara band lawas dan baru ini memberikan energi baru yang menggugah semangat kebersamaan.

Musik metal terus hidup dan berkembang, ini adalah bukti nyata dari kekuatan musik,” katanya dengan senyum bangga.

Parade Musik Lawas ini bukan sekadar acara, tetapi momen penting dalam sejarah musik di Cilegon. Bagi para penggemarnya, ini adalah kesempatan untuk kembali merasakan kehangatan masa lalu, sambil merayakan persatuan yang bisa terwujud di tengah keragaman.

Musik telah membuktikan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai generasi dan latar belakang, dan Parade Musik Lawas ini menjadi saksi bisu dari kekuatan tersebut.

Zaenal, pendiri IMM, menambahkan bahwa acara ini juga menjadi penanda ulang tahun ke-4 IMM, sebuah pencapaian yang membanggakan. “Kami ingin mempererat hubungan antar musisi dan memperkuat posisi kami dalam industri musik lokal,” ujar Zaenal.

Parade ini, menurutnya, adalah platform untuk mempromosikan musik lokal kepada audiens yang lebih luas, sekaligus ajang untuk menunjukkan bahwa musik tidak hanya tentang bunyi, tetapi juga tentang kebersamaan dan persatuan.

Malam itu, di bawah langit Merak yang berbintang, musik kembali menyatukan hati-hati yang datang dari berbagai penjuru. Parade Musik Lawas “Merak Bangkit Bersatu” telah mengukir sejarah baru di kota Cilegon, sebuah kisah yang akan terus dikenang oleh mereka yang hadir, dalam setiap alunan nada dan setiap detak jantung yang terpaut oleh melodi. (Sumber: Tri Budi Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.