Serang – Javanewsonline.co.id | Jalan Syeikh Nawawi, persis di depan Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang, lagi-lagi jadi buah bibir. Bukan karena kemacetan, tapi karena fenomena aneh: lubang jalan yang seolah sudah jadi “langganan” muncul di titik yang sama.

Selasa, 10 Juni 2025 lalu, pemandangan khas terlihat lagi. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten berjibaku, menambal sulam aspal yang berlubang di lokasi tersebut.

Perbaikan yang dilakukan PUPR Banten ini sebenarnya bukan hal baru. Mereka menyebutnya sebagai perawatan rutin, dengan proses pengupasan dan pelapisan ulang aspal atau overlay. Tapi, rutinnya perbaikan ini justru yang memicu pertanyaan: ada apa di balik lubang yang tak pernah benar-benar hilang ini?

Tjetjep Hendrawan, Kepala UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Serang Cilegon, tidak menampik bahwa titik di depan Gedung DPRD Banten ini memang sudah berkali-kali ditangani. “Di depan DPRD Banten (KP3B) itu ada kegiatan perawatan rutin. Kebetulan beberapa kali titik itu sudah dilakukan penanganan,” ujarnya, seolah mengamini kebandelan lubang tersebut.

Mata Air di Bawah Aspal: Biang Kerok Tersembunyi?

Keluhan masyarakat soal kondisi jalan ini bukan isapan jempol. Tjetjep punya penjelasan yang cukup mengejutkan. Lubang yang kerap muncul bukan semata karena beban kendaraan berat yang melintas, melainkan ada tekanan dari sumber mata air di bawah permukaan jalan. Air yang terus menekan dari bawah membuat struktur aspal di atasnya lebih rapuh dan rentan rusak.

“Pihak kita menangani tidak bosan-bosannya. Sampai terakhir itu dua bulan kemarin kita kupas dan overlay,” kata Tjetjep. Ia mengakui, kondisi jalan berlubang jelas mengurangi kenyamanan dan keamanan pengendara. “Jadi kurang nyaman buat pengendara. Sekarang kita buat lapisan aspal semoga pengendara dibuat nyaman,” imbuhnya, berharap solusi kali ini bisa bertahan lebih lama.

Selain intaian mata air, karakter Jalan Syeikh Nawawi yang lurus juga disebut-sebut turut mempercepat kerusakan. Jalur lurus ini seringkali memancing pengendara untuk memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, guncangan akibat lubang atau ketidakrataan jalan bisa memperparah kondisi aspal.

“Memang itu spot rutin yang kami tangani,” tutur Tjetjep. PUPR Banten juga mengklaim telah memperbaiki lubang serupa di titik lain, seperti di depan Kantor Wilayah Kementerian Agama Banten. “Itu sama persoalannya ada lubang. Kami juga sudah perbaiki,” imbuhnya.

Namun, di balik semua upaya perbaikan rutin ini, keberadaan “lubang langganan” di Jalan Syeikh Nawawi memunculkan pertanyaan krusial: adakah solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah struktural di bawah permukaan jalan, terutama yang disebabkan oleh tekanan air? Tanpa penanganan akar masalah, upaya perbaikan yang terus-menerus ini bisa jadi hanya sekadar tambal sulam yang tak berujung, membuang anggaran, dan terus menghantui kenyamanan serta keamanan pengguna jalan. Waktu akan membuktikan, apakah PUPR Banten bisa menemukan cara untuk mengalahkan mata air misterius di bawah aspal ini. (Adv)