Oleh: Zaenal Mutaqin
Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar santunan anak yatim di awal Muharram 1447 Hijriah, wujud komitmen menumbuhkan kepedulian sosial dan spiritual daerah.
Langit Karawang di awal Muharram 1447 Hijriah memayungi sebuah agenda penuh makna. Senin (7/7/2025), Aula Husni Hamid di Kompleks Pemda Karawang menjadi saksi bisu acara santunan anak yatim yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang.

Bukan sekadar rutinitas tahunan, kegiatan ini menjadi penanda komitmen daerah dalam menumbuhkan kepedulian sosial dan spiritual.
Pukul menunjukkan pagi, namun suasana khidmat sudah terasa. Deretan kursi terisi oleh para tamu penting: Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, SE, didampingi Wakil Bupati H. Maslani, Kapolres Karawang AKBP Fiki Novian Ardiansyah, hingga Kepala Kejaksaan Negeri Karawang Saepulloh, SH, MH. Kehadiran jajaran Forkopimda, pejabat daerah, dan masyarakat umum menggarisbawahi dukungan kolektif terhadap agenda mulia ini.
Bupati Aep Syaepuloh dalam sambutannya menekankan bahwa 10 Muharram bukanlah sekadar tanggal di kalender. “Momentum ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Bagi Aep, menyantuni anak yatim jauh melampaui kewajiban. Ini adalah wujud konkret kepedulian sosial yang harus terus dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan rasa empati dan kasih sayang terhadap anak-anak yatim. Ini bagian dari amal kebaikan yang harus kita rawat bersama,” tambahnya, suaranya sarat akan harapan.
Keheningan yang khusyuk semakin pekat saat ulama kondang asal Karawang, KH. Nurfadhilah Yusup atau Ustaz Tile, memulai tausiyahnya. Dengan gaya khasnya, Ustaz Tile mengulas kedalaman makna bulan Muharram, khususnya hari Asyura. Ia membimbing hadirin menyelami sejarah, menuturkan bagaimana hari Asyura menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting bagi para nabi.
“Hari Asyura memiliki sepuluh keutamaan,” jelas Ustaz Tile, “di antaranya, tobat Nabi Adam diterima, Nabi Nuh selamat dari banjir, Nabi Ibrahim dari kobaran api Namrud, dan keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.” Kisah-kisah kenabian itu tak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga penekanan akan kekuatan iman dan pertolongan ilahi di hari yang mulia ini.
Di penghujung acara, lantunan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustaz Tile mengakhiri rangkaian kegiatan. Suasana haru dan kekhidmatan begitu terasa, menyatukan hati-hati yang hadir dalam satu tujuan: menguatkan ukhuwah antara pemerintah dan masyarakat.

