Takalar (Sul-sel) – Javanewsonline.co.id | PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM ditunjuk sebagai pengusul untuk menerima dana bantuan kepada pelaku usaha mikro dari pemerintah melalui program Bantuan Presiden (Banpres) dan bantuan bagi Pelaku Usaha Mikro (BPUM), yang terus digulirkan kepada masing-masing penerima yang dinyatakan lolos.

Dana mikro yang digulirkan kepada masyarakat nilainya sebesar Rp 2.400.000. Dana yang diperuntukan buat permodalan bagi pengusaha kecil di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar tersebut ternyata penyalurannya diduga tidak tepat sasaran.

Sebab yang mendapat buku pinjaman atau ATM sekaligus nomer rekening pun belum ada. Laporan dari masyarakat, mereka beralasan bahwa bantuan tersebut ditunda, karena adanya pandemi covid 19 yang melanda Indonesia.

Beberapa masyarakat pemilik UMKM mengeluh, bahwa banyak masyarakat yang bermasalah dikarenakan mereka belum memiliki buku tabungan dari BNI maupun BRI. Saat masyarakat ingin membuat buku tabungan, pada hari Rabu (10/3/2021), mereka merasa di pimpong dan diduga dimintai uang dalam jumlah yang bervariasi kepada pengurusnya, padahal saat itu belum ada buku tabungan dan rekening.

Saat awak media menemui Kepala PNM bersama beberapa stafnya, ia mengatakan bahwa ia belum mengetahui mengenai masalah ini. Sebab, ia baru beberapa bulan menjabat sebagai Kepala PNM di Cabang Galesong.

Menurutnya, alur bantuan produktif yang disampaikannya memang panjang, karena saat ini  masyarakat banyak yang mengeluh, kenapa Banpres sampai sekarang belum sampai ke masyarakat, diduga banyak pengurus di lapangan yang nakal. “Jadi, tolong pemerintah kabupaten dan kota, agar memperhatikan masyarakat yang dapat permodalan,” tegasnya.

Proses yang panjang tersebut, lanjutnya, dimulai dari PNM mengirim data para penerima bantuan ke Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM. Kemenkop lalu memverifikasi syarat penerima, seperti WNI dan ada bukti memiliki usaha produktif. “Jadi prosesnya memang panjang, tapi Insya Allah, dengan keinginan untuk mensejahterakan masyarakat, dari 5,9 juta nasabah pada saat ini, yang masih dalam proses tinggal 4,6 juta lagi, dan sisanya dilakukan pada penyaluran berikutnya,” pungkasnya. (Syarifuddin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.