Jakarta – Javanewsonline.co.id | Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) menerima kunjungan delegasi bisnis dari Anhui Africa-Asia Exhibition Co., Ltd di Sekretariat GAPMMI, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pertemuan selama 1,5 jam tersebut menjadi ajang penjajakan bagi sembilan produsen asal Provinsi Anhui, China, untuk masuk ke pasar pangan Indonesia yang dinilai sangat potensial.

Delegasi Anhui membawa berbagai produk unggulan seperti peanut crisp (teng-teng kacang tanah), beef soup, hingga mi kering (dry noodle). Pihak GAPMMI yang diwakili oleh Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri, Handito Joewono, bersama Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan UKM, Irwan Widjaja, menyambut positif minat investasi tersebut.

Prospek Industri Mi Salah satu komoditas yang menjadi sorotan utama adalah mi. Produsen mi asal Anhui, Wang Houjun, menyatakan ketertarikannya mendalami selera konsumen lokal. Meski China memiliki sejarah panjang dalam produksi mi selama ribuan tahun, ia menyadari adanya perbedaan preferensi rasa.

“Kami perlu memahami selera konsumen di Indonesia yang mungkin berbeda dengan di China. Kami bahkan membuka peluang kerja sama melalui sistem Original Equipment Manufacturer (OEM),” ujar Wang Houjun.

Menanggapi hal itu, Handito Joewono menegaskan bahwa konsumsi mi di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Menurutnya, pasar Indonesia sangat terbuka baik untuk mi dengan cita rasa lokal maupun internasional.

Survei Rasa di JIExpo Selain mi, produk camilan peanut crisp juga diprediksi akan diminati. Yin Wanhong, salah satu produsen, menjelaskan bahwa produknya mengedepankan tekstur yang lebih renyah dengan tingkat kemanisan yang bisa disesuaikan.

“Di China, konsumen lebih menyukai rasa yang tidak terlalu manis. Kami akan melakukan survei lidah konsumen Indonesia melalui pembagian sampel di pameran More Food di JIExpo pada 7–10 Mei ini,” kata Yin.

Kesiapan Wajib Halal 2026 Isu krusial yang juga dibahas dalam pertemuan tersebut adalah regulasi sertifikasi halal. Mengingat pemberlakuan Wajib Halal pada Oktober 2026, delegasi Anhui mempertanyakan mekanisme registrasi produk mereka di Indonesia.

Irwan Widjaja menjelaskan bahwa GAPMMI berkomitmen membantu pelaku usaha dalam proses sertifikasi. Ia menekankan bahwa per Oktober 2026, seluruh produk makanan, minuman, obat-obatan, hingga kosmetik yang beredar di Indonesia wajib bersertifikat halal.

“Para eksportir dari Anhui dapat melakukan pemeriksaan awal melalui Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) di China yang telah diakui oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH),” jelas Irwan.

China sendiri tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah LHLN terbanyak dan menjadi mitra strategis BPJPH. Hal ini menempatkan China sebagai salah satu pelopor industri halal dunia dengan volume perdagangan produk halal yang terus meningkat secara signifikan menuju tahun 2026. (Liu)