Kabut tipis masih menggantung di langit Tuapeijat ketika derap sepatu prajurit mulai memenuhi Lapangan Makodim 0319 Kepulauan Mentawai, Kamis pagi itu. Di tengah barisan tentara, pejabat daerah, dan warga yang berkumpul, Upacara Karya Bhakti Berskala Besar TNI AD Tahun 2026 resmi dimulai.
Oleh: Rijon
Di bawah langit pagi yang menggantung awan tipis di Tuapeijat, dentuman aba-aba upacara memecah suasana Lapangan Makodim 0319 Kepulauan Mentawai. Barisan prajurit berdiri tegak, sementara para pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan warga menyaksikan dimulainya Karya Bhakti Berskala Besar TNI AD Tahun Anggaran 2026, Kamis, 7 Mei 2026.

Skala Besar TNI AD tahun 2026 di Kep.
Mentawai
Upacara itu dipimpin Brigjen Benny Febryanto, Kapoksahli anglima Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol. Di hadapan peserta upacara, jenderal bintang satu itu menegaskan bahwa program karya bhakti bukan sekadar agenda seremonial militer, melainkan kerja nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat di daerah terpencil.
Mentawai, gugusan kepulauan di pesisir barat Sumatera yang selama ini akrab dengan tantangan infrastruktur dan keterisolasian, kembali menjadi panggung pengabdian TNI. Program yang dijalankan mencakup rehabilitasi rumah ibadah, perbaikan rumah tidak layak huni, pembangunan jalan dan jembatan, hingga distribusi bantuan logistik bagi warga.
“Ini bukan hanya program di atas kertas, tetapi tindakan nyata untuk masyarakat,” ujar Brigjen Benny dalam sambutannya.

telah dimulai oleh inspektur upacara Brigjen Benny Febrianto
Kegiatan tersebut memperlihatkan wajah lain TNI AD: bukan semata kekuatan pertahanan, melainkan juga mesin sosial yang bergerak ke wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya dijangkau pembangunan. Kehadiran aparat, alat berat, dan dukungan logistik di Mentawai menjadi simbol bahwa negara tetap hadir hingga ke pulau-pulau terluar.
Pemerintah daerah dan unsur Forkopimda turut memberi dukungan penuh. Bupati Kepulauan Mentawai diwakili Asisten III Setda Mentawai, Motshiki Hura. Hadir pula unsur kepolisian, kejaksaan, para kepala OPD, camat, kepala desa, hingga tokoh masyarakat Sipora Selatan dan Sipora Utara.
Di sela kegiatan, Brigjen Benny juga menekankan bahwa seluruh anggaran program berasal dari internal TNI AD tanpa menggunakan dana pemerintah daerah. Untuk pelaksanaan di Mentawai, nilai anggaran disebut mencapai hampir Rp6 miliar.
Menurut dia, kegiatan di Mentawai merupakan pelaksanaan ketiga program karya bhakti berskala besar TNI AD sepanjang 2026. Sebelumnya kegiatan serupa digelar di Lebak, Banten, dan Ambalangan.
Selepas upacara, doa bersama dipimpin Ustad Abdul Sani dari Kementerian Agama Mentawai. Suasana menjadi lebih khidmat ketika para tamu undangan dan masyarakat membaur di lapangan, menandai awal kerja panjang yang akan berlangsung di sejumlah titik pembangunan.
Bagi masyarakat Mentawai, karya bhakti itu bukan sekadar pembangunan fisik. Ia menjadi penanda adanya perhatian yang datang dari pusat, menyeberangi laut dan jarak, menuju daerah yang selama ini kerap berada di pinggir arus pembangunan nasional.

