Jakarta – Javanewsonline.co.id | Tzu Chi Hospital (TCH) mencatatkan kemajuan signifikan dalam penerapan teknologi bedah robotik di Indonesia. Hingga Januari 2026, rumah sakit ini telah menangani total 465 kasus operasi menggunakan teknologi robotic surgery, yang terdiri atas 356 kasus pada area lutut dan 109 kasus bedah laparoskopi pada area perut.

Bedah robotik dinilai memberikan keunggulan berupa tingkat nyeri yang lebih minimal serta pemulihan pasien yang lebih cepat dibandingkan metode bedah konvensional. Teknologi ini juga memungkinkan dokter melakukan tindakan medis dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dan bersifat minimal invasif.
Direktur Senior Tzu Chi Hospital, Prof. Satyanegara, mengatakan bahwa teknologi bedah robotik sebenarnya telah dikenal dalam dunia medis sejak 1985 dan pertama kali digunakan di Amerika Serikat. Menurut dia, penerapan teknologi tersebut di TCH merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan bedah yang berorientasi pada keselamatan dan kualitas hidup pasien.

“Teknologi robotic dalam perspektif ilmu kedokteran sudah ada sejak lama. Hari ini, Tzu Chi Hospital memperagakan teknologi yang sama sebagai komitmen menghadirkan tindakan bedah yang lebih akurat dan minim invasif,” ujar Prof. Satyanegara saat memberikan sambutan dalam Seminar Awam Milestone Ceremony, Jumat, 10 Januari 2026.
Sebagai penanda capaian 100 kasus robotic laparoscopic surgery, TCH menggelar seminar awam yang disertai peragaan operasi bedah robotik oleh dokter spesialis urologi, Dr. Stevano Sipahutar, Sp.U., FICRS, serta sesi testimoni dari pasien yang telah menjalani operasi dengan metode tersebut.
Sementara itu, Direktur Utama Tzu Chi Hospital, Dr. Gunawan Susanto, Sp.BS, menekankan pentingnya profesionalisme dan kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi teknologi medis mutakhir. Ia menjelaskan bahwa sebelum era 1980-an, operasi perut dilakukan dengan sayatan besar yang berisiko menimbulkan nyeri tinggi dan infeksi.
“Setelah era laparoskopi, sayatan menjadi jauh lebih kecil dan organ perut tidak banyak terganggu. Namun pergerakan alat masih terbatas. Dengan robotic surgery, dokter bisa melihat hingga 360 derajat dan melakukan tindakan dengan presisi lebih tinggi,” kata Gunawan.
Menurut dia, keunggulan lain dari teknologi robotik adalah percepatan pemulihan pasien. Dalam banyak kasus, pasien sudah dapat pulang keesokan hari dan kembali beraktivitas ringan. Saat ini, teknologi bedah robotik di TCH digunakan untuk berbagai bidang, antara lain urologi, kebidanan, bedah digestif, dan operasi lutut.
Kepala Tim Dokter Hernia Center TCH, DR. Dr. Barlian Sutedja, Sp.B, menilai perkembangan teknologi robotic laparoscopy telah membawa perubahan besar dalam praktik bedah modern. Ia menyebutkan bahwa kombinasi keahlian dokter dan presisi robotik memberikan manfaat signifikan bagi pasien maupun tenaga medis.
“Sayatan lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, risiko komplikasi lebih rendah, dan waktu pemulihan lebih cepat. Bagi dokter bedah, teknologi ini meningkatkan akurasi tindakan dan efisiensi prosedur,” ujar Barlian.
Penerapan robotic surgery di Tzu Chi Hospital mencerminkan arah perkembangan layanan kesehatan yang semakin mengedepankan teknologi presisi dengan tetap menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama. (Liu)

