Oleh: Irwan
Di tengah kawasan GOR Perahu Kajang, sebuah lapangan skateboard yang dulunya menjadi kebanggaan kini tak lebih dari sekadar tempat terlantar
Ketika melangkah menuju kawasan GOR Perahu Kajang di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), langkah kita disambut oleh pemandangan yang jauh dari harapan. Di tengah keramaian aktivitas olahraga lainnya, ada sebuah lapangan skateboard yang kini hanya tinggal kenangan.
Berbeda dengan harapan saat pembangunannya, lapangan ini kini sudah ditumbuhi semak belukar, tak terawat, dan hampir tak bisa dikenali lagi sebagai sebuah fasilitas umum yang dulunya pernah menjadi tempat para anak muda mengasah kemampuan.
Dedy Ardiansyah, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) BARAK NKRI, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi ini. “Lapangan skateboard ini sejak dibangun sampai sekarang tidak terawat.
Dari semula menjadi tempat bermain anak-anak muda, kini malah menjadi lahan terlantar. Seharusnya, jika pemerintah membangun fasilitas, anggaran pemeliharaan juga harus disiapkan, bukan hanya dana pembangunan,” ujarnya dengan nada kesal.
Memang, melihat kondisi lapangan ini saat ini, kita bisa merasakan betapa sayangnya fasilitas ini terabaikan. Rumput yang tumbuh lebat menggantikan peran papan skateboard yang dulu menjadi arena hiburan bagi pemuda-pemudi OKI.
Bukan hanya itu, fasilitas lain yang terletak di kompleks yang sama, yaitu tempat olahraga panjat tebing, juga tidak kalah memprihatinkan. Alat-alat yang seharusnya dapat memberikan tantangan fisik kini malah terlihat kusam dan rusak, tak terurus.
Tak jauh dari situ, pemandangan serupa terlihat di halaman GOR Perahu Kajang. Semak belukar tumbuh liar menguasai lahan sekitar, menutupi setiap jejak tangga yang dulunya menjadi akses utama menuju area olahraga.
“Kemana dana pemeliharaan kebersihan ini?” tanya Dedy. Sebuah pertanyaan yang sangat beralasan, mengingat kawasan ini jelas membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah.
Dalam kunjungan media ke lapangan, situasi yang ditemukan cukup memprihatinkan. Papan pengumuman yang dulunya terpasang di sana sudah hampir roboh, sementara setiap akses menuju tempat-tempat olahraga sudah sulit dilewati karena tertutup rumput liar.
Tampaknya, GOR Perahu Kajang dan lapangan skateboard kini lebih mirip dengan ‘sarang hantu’ daripada fasilitas olahraga yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah.
Aset yang terabaikan ini tentu menimbulkan pertanyaan besar. Jika pemerintah daerah mampu membangun berbagai fasilitas olahraga, mengapa tidak ada upaya nyata untuk merawatnya? Bagaimana dengan anggaran pemeliharaan yang seharusnya digunakan untuk menjaga kebersihan dan kelayakan fasilitas-fasilitas tersebut?
“Ini semua mengindikasikan bahwa ada ketidaksinambungan antara pembangunan dan pemeliharaan. Seakan-akan yang penting adalah ada proyek yang jalan setiap tahunnya, tanpa melihat apakah itu benar-benar bermanfaat untuk masyarakat atau tidak,” pungkas Dedy.
Harapan agar fasilitas olahraga ini kembali digunakan dengan baik dan diperhatikan oleh pemerintah daerah pun muncul.
Para pemuda dan masyarakat OKI pantas mendapatkan tempat yang layak untuk berkegiatan, dan seharusnya aset daerah ini bisa menjadi pusat aktivitas positif, bukan hanya sekadar peninggalan yang terabaikan.
Dengan begitu, masyarakat menunggu keseriusan pemerintah daerah dalam merawat dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang sudah ada, agar tidak hanya menjadi pemborosan anggaran yang sia-sia.

