Pelalawan – Javanewsonline.co.id | Keberadaan dua akses jalan koridor, yakni Basrah dan Gondai, yang dibangun oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Pelalawan, Riau, diduga kuat menjadi pemicu utama deforestasi dan degradasi di kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Jalan-jalan ini, yang sedianya digunakan untuk operasional pengangkutan kayu ekaliptus menuju pabrik, berbatasan langsung dan bahkan melintasi area yang berdampingan dengan TNTN.
Jumri Harmadi, Ketua Umum Perisai Negeri Bumi Melayu Riau (PNBMR), menyatakan apresiasi dan dukungannya terhadap langkah tegas Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) dalam menyelamatkan aset negara dari perambahan. Namun, ia juga menyoroti peran jalan koridor RAPP dalam masalah ini.
“Secara keseluruhan, meskipun jalan koridor PT RAPP dibangun untuk tujuan ekonomi, secara tidak langsung telah berperan sebagai pintu masuk yang memudahkan dan mempercepat degradasi lingkungan hutan TNTN,” ujar Jumri. Ia menambahkan bahwa hal ini menjadi ancaman nyata bagi keanekaragaman hayati dan satwa-satwa dilindungi di dalamnya.
Peran Fasilitator Perambahan
Meski PT RAPP tidak secara langsung melakukan perambahan – karena perambahan adalah tindakan ilegal oleh individu atau kelompok – Jumri Harmadi menegaskan bahwa infrastruktur yang dibangun, khususnya jalan koridor Basrah dan Gondai, telah menjadi faktor fasilitator utama. “Keberadaan operasional mereka yang tidak jauh dari kawasan TNTN secara tidak langsung telah menjadi faktor fasilitator utama yang memungkinkan dan mempercepat laju perambahan dan praktik ilegal lainnya di dalam TNTN. Oleh karena itu, mereka memiliki kontribusi langsung yang besar terhadap masalah ini,” jelasnya.
Jumri mengibaratkan jalan koridor tersebut seperti pisau bermata dua. Jalan yang dibangun untuk mengangkut kayu dari hutan tanaman industri (HTI) IUPHHK-HTI milik perusahaan, secara efektif membuka ruang akses ke area yang dulunya terpencil.
“Akses ini dimanfaatkan tidak hanya oleh PT RAPP sendiri, tetapi juga oleh perambah, pembalak liar, dan pemburu,” ungkap Jumri. Ia meyakini, tanpa adanya jalan ini, perambahan dan praktik ilegal lainnya dalam skala besar akan jauh lebih sulit dilakukan.
Menurut Jumri, peran PT RAPP dalam masalah perambahan di TNTN, meskipun tidak secara langsung sebagai pelaku perambahan, sangatlah besar dan krusial. “Mereka berperan sebagai faktor pendorong dan fasilitator utama, secara tidak sengaja membuka pintu gerbang aktivitas ilegal tersebut,” imbuhnya.
Evaluasi Mendesak
Deforestasi di TNTN merupakan masalah kompleks yang membutuhkan komitmen kuat dan aksi nyata dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.
Sebagai tokoh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Pelalawan, Jumri Harmadi mendesak Satgas PKH dan Kementerian Kehutanan untuk mengevaluasi keberadaan dua jalan koridor utama PT RAPP. “Perlu dicari formulasi konkret agar jalan tersebut tidak digunakan sebagai jalur untuk melakukan praktik ilegal dan pelanggaran lainnya di dalam kawasan hutan TNTN,” pungkasnya. (Erizal)

