Pandeglang – Javanewsonline.co.id | Penyaluran BPNT di Desa Cigondang diduga jadi ladang bisnis bagi para oknum. Pembagian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Cigondang Kecamatan Labuan Pandeglang menuai protes dan keluhan dari Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Pasalnya, pada pencairan tersebut, uang senilai Rp 600.000 yang salurkan melalui PT Pos Indonesia nilainya diduga tidak sesuai dengan yang seharusnya diterima.
Hasil konfirmasi awak media Javanewsonline.co.id, dari beberapa KPM mengeluhkan bahwa pencairan BPNT di Desa Cigondang itu berupa uang senilai Rp 600.000,- namun mereka hanya menerima uang Rp 200.000,-, sementara sisanya Rp 400.000 diarahkan untuk pembelian sembako ke agen E Warung yang sudah disiapkan oleh desa.
KPM harus menyerahkan uang Rp 400.000,- tersebut untuk membeli beras satu karung yang ukurannya 25 kg dan telur 5 kg. Beberapa KPM mempertanyakan, mengapa uang tersebut di belanjakan di situ lagi, dengan harga yang sangat mahal ?.
“Seperti halnya beras yang biasa kami beli di pasar seharga 230.000 perkarung, yang ukurannya 25 kg, kini di desa harganya mencapai Rp 275,000,- begitupun dengan harga telur 5 kilogram Rp 125.000, sedangkan sisanya Rp 200.000 diberikan kepada kami para KPM. Untuk pembelian sembako seharusnya pemerintah tidak menentukan ke satu tempat, yakni ke warung yang sudah diarahkan oleh desa, karena dikhawatirkan pihak desa akan menaikan harga semaunya,” ujarnya, Sabtu (26/3/2022).
Penyaluran BPNT yang disalurkan di Desa Cigondang, membuat KPM merasa di intimidasi oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari KPM tersebut, bahkan diduga adanya penggelembungan harga yang tidak sesuai dipasaran. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pandeglang saat dihubungi melalui telepon selulernya, sampai berita ini ditayangkan belum ada tanggapan. (tb)

