Oleh: Syamsurijon
Pelabuhan Tuapeijat sore itu ramai oleh denting gendang dan tarian Turuk Laggai. Di bawah langit Mentawai yang kelabu, Bupati Rinto Wardana menyambut kedatangan Senator DPD RI H. Irman Gusman sebuah kunjungan yang membawa lebih dari sekadar silaturahmi: harapan akan perhatian dan perubahan bagi daerah kepulauan yang lama terpinggirkan itu.
Siang itu, 15 Oktober 2025, Pelabuhan Tuapeijat tampak berbeda dari biasanya. Di bawah langit mendung, barisan penari dengan hiasan bulu di kepala menari diiringi hentakan gendang. Tarian Turuk Laggai, tarian kebesaran masyarakat Sikere, menjadi penanda bahwa tamu istimewa sedang datang: H. Irman Gusman, SE, MBA, senator DPD RI asal Sumatera Barat.

Forkopimda Mentawai Menyambut Senator
H.Irman Gusman, SE,MBA dengan
Tarian Turug Laggai Mentawai
Dari kejauhan, Bupati Kepulauan Mentawai, DR. Rinto Wardana, terlihat berdiri di barisan depan bersama para pimpinan Forkopimda. Begitu kapal sandar, ia menyambut tamunya dengan senyum lebar dan sapaan hangat. “Selamat datang, Abangnda Irman,” ucapnya, sambil menyalami sang senator. Sapaan itu terdengar akrab, seperti pertemuan dua saudara yang lama tak bersua.
Selepas penyambutan adat, rombongan bergerak menuju hotel untuk beristirahat sejenak sebelum pertemuan resmi dimulai. Tepat pukul satu lewat lima belas, ruang serbaguna Kantor Bupati Mentawai di Sipora Utara sudah dipenuhi pejabat daerah. Aroma kopi lokal Mentawai mengisi udara, mengiringi suasana yang terasa akrab namun serius.
Dalam sambutannya, Rinto berbicara tanpa basa-basi. Ia menyebut dengan nada getir bagaimana Mentawai selama ini sering dicap sebagai daerah termiskin di Sumatera Barat. “Kami akui, kami memang tertinggal,” katanya, menatap para hadirin. “Tapi bukan berarti kami tidak mampu. Kami hanya butuh kesempatan dan perhatian.”

H. Irman Gusman, SE MBA dalam sambutan nya
Ia lalu bercerita tentang kesenjangan yang masih lebar: jalan yang belum mulus, listrik yang sering padam, air bersih yang masih menjadi barang mewah di beberapa pulau. Namun di balik semua itu, ada optimisme yang tak padam.
“Mentawai punya ombak terbaik ketiga di dunia,” ujarnya bersemangat. “Setiap tahun peselancar dari berbagai negara datang ke sini. Ombak yang sama yang memukul karang itu bisa menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat kami.”
Rinto memandang pariwisata sebagai jalan pembuka pembangunan. Ia berharap kehadiran Irman Gusman dapat menjadi jembatan antara Mentawai dan pusat kebijakan di Jakarta. “Kami percaya, Abangnda bisa bantu memperjuangkan Mentawai agar lebih diperhatikan,” katanya menutup sambutan dengan nada harap.
Ketika giliran berbicara, Irman Gusman berdiri dengan tenang. Matanya menyapu ruangan sebelum ia berbicara dengan suara lembut namun mantap. “Saya datang bukan hanya untuk bersalaman dan berfoto. Saya datang untuk mendengar, melihat, dan mencari solusi,” katanya.
Menurutnya, Mentawai memiliki potensi yang luar biasa, bukan hanya dari segi pariwisata, tetapi juga kekayaan alam dan budaya. “Saya akan perjuangkan agar Mentawai mendapat perhatian yang layak dari pemerintah pusat. Pembangunan harus menjangkau pulau-pulau seperti ini,” ujar Irman.
Setelah pertemuan, Irman dijadwalkan meninjau spot surfing Katiet di Pagai Selatan dan Siberut, dua kawasan yang dikenal dunia sebagai surga peselancar. “Saya ingin lihat langsung bagaimana alam ini bisa dimanfaatkan tanpa dirusak,” ucapnya.
Sore menjelang. Angin laut berembus lembut membawa aroma asin dan suara debur ombak. Di pelataran kantor bupati, para penari Turuk Laggai kembali menari, kali ini untuk melepas sang tamu.
Di mata Bupati Rinto, harapan itu tampak seperti ombak di kejauhan: terus datang, silih berganti, membawa kemungkinan bahwa suatu hari nanti Mentawai tak lagi disebut tertinggal melainkan dikenal sebagai pulau yang bangkit dari sunyi, digerakkan oleh ombak dan semangat warganya.***

