Kisah di Balik Hebohnya Keracunan Pangan di Keerom
Pagi yang tenang di Arso Kota berubah panik ketika enam murid tiba-tiba muntah usai menyantap bubur ayam PMT, memicu kepanikan dan kabar keliru di masyarakat.
Oleh: Panji Agung Mangkunegoro
Pagi di Arso Kota biasanya berjalan tenang. Anak-anak pulang sekolah, para ibu menjemput dengan senyum lelah, dan halaman TK perlahan kosong. Namun pagi itu, suasana berubah. Di sudut ruang kelas TK Wili Brodus, seorang guru memandangi seorang murid yang memegangi perutnya, wajahnya pucat. Tak lama, satu demi satu anak menunjukkan gejala serupa mual, muntah, dan lemas. “Bu, adik muntah lagi…” suara salah satu anak memecah kekalutan kecil itu.
Bubur ayam menu yang baru saja dibagikan beberapa jam sebelumnya tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Ini adalah pembagian ketiga dari Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) PKK Kabupaten Keerom, dari bulan November 2025, yang memiliki 6 gugus dan yang terkena kasus keracunan pangan yaitu gugus 5 (Swakarsa – Arso 2) dan Gugus 6 (Arso Kota – Tami). Dari 30 murid, enam anak jatuh sakit.
Ketua yayasan dan kepala sekolah bergerak cepat. Telepon dihubungi, pesan dikirim ke puskesmas. Mereka tahu, ini bukan situasi yang bisa menunggu esok hari.
Ketika Pesan Berantai Lebih Cepat dari Penjelasan
Di saat guru dan tenaga kesehatan sibuk menangani anak-anak, kabar lain sudah terbang di media sosial: keracunan pangan akibat program MBG. Bubur ayam gugus 5 dan 6.” Namun dunia maya bergerak dengan caranya sendiri. Pesan itu menyebar cepat, melebihi laju langkah orang tua yang berdatangan ke sekolah.
Padahal, di ruang kecil puskesmas, para petugas terus mengulang klarifikasi. Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah TK Wili Brodus mengatakan, bahwa ini bukan Program MBG, tapi dari PMT PKK Keerom, yang di kelola oleh istri Bupati Keerom, yang juga sebagai Ketua PKK Kabupaten Keerom.
Menjelang siang, angka itu bertambah. Sebelas anak dari TK Wolem Terpadu Pir 1 dibawa ke RSUD Kwaingga dengan gejala muntaber, dan enam anak lainnya dirawat di PKM Arso Kota. Ruang RSUD Kwaingga dipenuhi suara tangis, panggilan orang tua, dan langkah tergesa para perawat.
Di tempat lain, petugas surveilans menata botol-botol sampel. Ada bubur ayam yang belum disentuh, bubur sisa yang dikeruk dari mangkuk kecil, muntahan yang dimasukkan ke wadah steril, hingga air yang dipakai untuk memasak.
Sementara sampel telah dikirim ke Dok 2 oleh petugas surveilans puskesmas Arso Kota. “Semua harus dikirim malam ini. Tidak boleh terlambat,” ujar salah satu petugas, sambil memeriksa label pada botol. Sampel itu kemudian menuju Dok 2, tempat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan.
Di Balik Pintu Puskesmas, Sebuah Pesan Disampaikan dengan Hati-Hati
Beberapa jam setelah kejadian tersebut, sebuah pesan dikirim ke para pimpinan dan senior: permohonan maaf karena harus mengganggu waktu istirahat, dan penjelasan yang harus segera disampaikan agar kabar tidak semakin simpang siur.
“Mohon ijin, jika masyarakat bertanya soal keracunan pangan akibat MBG, mohon bantu konfirmasi bahwa ini bukan MBG,” tulis petugas puskesmas.
Seperti seseorang yang berusaha menepikan kebingungan masyarakat sambil tetap menjalankan tugas menenangkan orang tua yang resah, pesan itu dikirim dengan harapan sederhana agar kebenaran tidak tenggelam dalam kecepatan berita.
Hingga hasil laboratorium keluar, tidak ada yang berani menyimpulkan penyebab pasti. Namun satu hal jelas: anak-anak harus pulih, orang tua harus tenang, dan masyarakat harus menerima informasi yang benar.
Bagi anak-anak dan tenaga medis di Keerom. kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa dalam setiap program, sekecil apa pun makanannya, ada kehidupan yang harus dijaga, ada kepercayaan yang harus dipelihara.
Dan di antara semua dinamika itu, satu kalimat ditegaskan berkali-kali: “Ini bukan MBG. Ini PMT dari PKK Keerom.” Karena kadang, meluruskan kabar adalah bagian penting dari merawat masyarakat.

