Oleh: Osyan



Ratusan kursi tersusun rapi di pelataran SMAN 2 Tebo ketika satu per satu siswa Angkatan ke-41 memasuki arena perpisahan dengan wajah penuh campuran bahagia dan haru. Diiringi tepuk tangan guru serta orang tua, sebanyak 247 siswa resmi dilepas pada Kamis, 7 Mei 2026.

Tenda-tenda putih berdiri rapi di pelataran SMAN 2 Tebo, Kamis pagi, 7 Mei 2026. Di bawah langit yang cerah, ratusan siswa mengenakan pakaian terbaik mereka. Sebagian tersenyum lepas, sebagian lain berusaha menahan haru. Hari itu, 247 siswa Angkatan ke-41 resmi dilepas setelah menuntaskan perjalanan tiga tahun di bangku sekolah menengah.

Perpisahan sekolah yang biasanya identik dengan pesta dan hiburan, di SMAN 2 Tebo berubah menjadi ruang pertemuan antara kenangan, harapan, dan perasaan kehilangan. Tepuk tangan riuh bercampur isak tangis ketika satu per satu siswa menerima tanda kelulusan dan rapor dari para guru mereka.

Di kursi bagian depan, para orang tua menyaksikan dengan mata berkaca-kaca. Banyak dari mereka datang dari desa-desa sekitar Rimbo Bujang, membawa kebanggaan atas keberhasilan anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan.

Acara pelepasan itu turut dihadiri sejumlah pejabat daerah. Bupati Tebo diwakili Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Tebo Himawan Susanto. Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo Haryadi, Camat Rimbo Bujang Siti Fatimah, anggota DPRD Provinsi Jambi Suwarno, hingga jajaran kepala sekolah SMA negeri se-Kabupaten Tebo.

Namun perhatian utama pagi itu tetap tertuju kepada para siswa. Mereka datang bukan hanya untuk merayakan kelulusan, tetapi juga menandai akhir dari sebuah fase kehidupan yang selama ini dipenuhi rutinitas kelas, tugas sekolah, hukuman guru, hingga persahabatan yang tumbuh diam-diam di lorong sekolah.

Ketua panitia perpisahan, Muhamad Fadlan, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengakui acara itu dapat terlaksana berkat dukungan banyak pihak, termasuk guru dan wali murid.

Di tengah acara, sekolah memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi di bidang akademik maupun nonakademik. Nama-nama mereka dipanggil satu per satu ke atas panggung, disambut tepuk tangan panjang dari teman-teman seangkatan. Momen itu menjadi penanda bahwa sekolah tidak hanya meluluskan siswa, tetapi juga meninggalkan jejak prestasi yang akan dikenang.

Bagi sebagian siswa, kelulusan adalah gerbang menuju perguruan tinggi. Bagi yang lain, itu menjadi awal untuk membantu keluarga atau mencari pekerjaan. Namun pagi itu, semua tampak setara: sama-sama berdiri di ambang masa depan yang belum sepenuhnya mereka kenal.

Suasana paling emosional terjadi saat prosesi pengalungan tanda kelulusan dimulai. Beberapa siswa terlihat memeluk guru mereka erat-erat. Ada yang menangis di pundak sahabat, ada pula yang tertawa sambil mengabadikan momen lewat telepon genggam.

Perpisahan Angkatan ke-41 SMAN 2 Tebo akhirnya ditutup dengan doa bersama dan sesi foto massal. Kamera-kamera terus menyala, seolah tak ingin membiarkan satu pun kenangan pagi itu hilang begitu saja.

Di pelataran sekolah yang perlahan mulai sepi, tersisa jejak langkah para siswa yang kini bersiap meninggalkan masa putih abu-abu membawa cerita masing-masing menuju kehidupan yang baru.