Aceh Barat – Javanewsonline.co.id | Komunitas Peduli Krueng Woyla (KUPUEWO) menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung gerakan Yayasan Wahana Generasi Aceh (WANGSA) dan organisasi masyarakat lainnya dalam upaya penyelamatan ekosistem Sungai Woyla. Sungai yang membentang di Aceh Barat ini terancam rusak akibat aktivitas tambang emas PT Magellanic Garuda Kencana (MGK) serta tambang ilegal lain.
Ketua KUPUEWO, Irsadi Aristora, S.Hut., M.H., menegaskan, pemerintah dan aparat penegak hukum tidak boleh abai terhadap kerusakan lingkungan yang mengancam sumber kehidupan masyarakat di sepanjang aliran Sungai Woyla.
“Kami mohon kepada penegak hukum agar bersikap tegas dan tidak tebang pilih, supaya keselamatan ekosistem sungai tetap terjaga. Sungai ini adalah sumber air dan kehidupan masyarakat sibak Krueng Woyla yang harus dilindungi,” kata Irsadi, Selasa (20/8/2025).
Menurutnya, Sungai Woyla bukan hanya jalur air biasa. Sungai ini memiliki peran strategis, menghubungkan berbagai kepentingan antar kabupaten, dan memiliki nilai sejarah penting bagi Aceh. Selain itu, Sungai Woyla termasuk kawasan strategis yang berada di bawah pengawasan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Aceh.
KUPUEWO menekankan bahwa praktik penambangan yang tidak sesuai aturan hukum berpotensi menimbulkan dampak ekologis serius, termasuk pencemaran air dan hilangnya habitat ikan endemik. Dampak tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan dan pertanian di tepian sungai.
“Kami siap menggabungkan massa, kekuatan, dan kemampuan dengan WANGSA serta semua lembaga lain untuk bersama-sama menyelamatkan Krueng Woyla dari praktik penambangan yang melanggar hukum,” ujar Irsadi.
Gerakan penyelamatan sungai ini, menurut KUPUEWO, merupakan bentuk tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekaligus memastikan hak-hak masyarakat atas ekosistem tetap terjaga. Aktivis lingkungan tersebut menekankan, upaya mereka bukan untuk menghambat pembangunan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap kegiatan ekonomi tidak mengorbankan keberlanjutan alam dan kesejahteraan warga.
Respons masyarakat juga menguatkan posisi KUPUEWO. Warga di sepanjang aliran Krueng Woyla menyatakan kekhawatiran mereka terhadap kerusakan sungai yang dapat mengganggu mata pencaharian sehari-hari. Beberapa warga bahkan bersedia ikut dalam aksi sosial yang digalang KUPUEWO bersama WANGSA untuk melakukan pemantauan dan kampanye kesadaran lingkungan.
Dengan pernyataan ini, KUPUEWO menegaskan posisinya berdiri bersama rakyat, siap bergerak bersama elemen masyarakat sipil untuk menolak segala bentuk eksploitasi yang mengancam keberlanjutan Sungai Woyla. “Ini bukan sekadar aksi simbolis. Kami akan menindaklanjuti semua upaya untuk memastikan ekosistem tetap lestari,” kata Irsadi.
Langkah-langkah yang disiapkan termasuk koordinasi dengan pihak berwenang, advokasi hukum, dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian Sungai Woyla. KUPUEWO berharap, dengan dukungan WANGSA dan lembaga lain, tindakan preventif terhadap penambangan ilegal dapat lebih efektif dan berdampak panjang bagi ekosistem serta kesejahteraan masyarakat Aceh Barat. (Noval)

