INDRAMAYU –  Javanewsonline.co.id | Takbir menggema di langit pagi Desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Suara lantang dari pengeras suara Masjid Jami Darurruhammah menandai dimulainya prosesi sakral pemotongan hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, Jumat, 6 Juni 2025.

Sejak matahari belum meninggi, halaman masjid telah dipadati warga. Mereka datang tak sekadar menyaksikan, melainkan juga larut dalam semangat gotong royong yang menjadi denyut kehidupan desa pesisir ini. Tahun ini, panitia menerima 21 ekor hewan qurban—20 kambing dan satu sapi semuanya hasil partisipasi warga, termasuk Kepala Desa H. Pandi yang turut menyumbangkan satu ekor sapi.

“Alhamdulillah, semua hewan yang dipotong tahun ini berasal dari warga Desa Lombang. Artinya, semangat berbagi masih terjaga, meski jumlahnya menurun dibandingkan tahun lalu,” ujar Kamir, Ketua Panitia Qurban, didampingi Bendahara H. Kasdika atau yang akrab disapa Kliwon.

Panitia pemotongan hewan qurban dibentuk secara kolaboratif, melibatkan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Ikatan Remaja Masjid Darurruhammah (Irmada), BPD, RW, RT, Karang Taruna, dan tokoh masyarakat. Persiapan dilakukan matang, dari rapat koordinasi hingga pendataan mustahik—penerima manfaat. Sebanyak 550 jiwa tercatat sebagai penerima daging qurban tahun ini.

“Kami pastikan distribusinya tepat sasaran. Setiap tahunnya kami berupaya menjaga amanah warga agar qurban mereka benar-benar sampai kepada yang berhak,” kata H. Kasdika.

Prosesi penyembelihan berlangsung khidmat. Meski udara cukup terik, para relawan tetap bekerja cekatan. Mereka menyembelih, menguliti, menimbang, dan membungkus daging qurban dengan sistem bergilir. Warga yang berqurban dianjurkan hadir menyaksikan prosesi sebagai bentuk keteladanan dan keikhlasan.

Ketua DKM, Ustad Samsudin, menekankan bahwa berqurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan juga menumbuhkan semangat solidaritas. “Nilai qurban adalah pengorbanan, keikhlasan, dan kemanusiaan. Semua relawan yang terlibat hari ini adalah pahlawan dalam sunyi. Mereka membangun ukhuwah islamiyah yang hakiki,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Samsudin menyinggung pentingnya makna qurban dalam konteks kehidupan berbangsa. “Kita butuh solidaritas dan kesadaran sosial untuk membangun negeri, dimulai dari desa kecil seperti Lombang ini.”

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ketua MUI Desa Lombang, H. Jaidin. Ia mengingatkan kembali makna qurban dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, hingga Nabi Muhammad SAW, yang menegaskan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah dan pengorbanan.

“Thaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah, itulah hakikat qurban. Sebagai manusia, kita juga diminta berkorban bukan hanya harta, tapi juga ego dan nafsu,” ujar H. Jaidin di hadapan jamaah.

Saat matahari mulai condong ke barat, aroma daging panggang sudah menyebar di sudut-sudut desa. Bagi warga Lombang, Idul Adha bukan hanya tentang daging, melainkan tentang iman yang diterjemahkan dalam aksi nyata. Dalam sunyi, mereka menebar kasih. Dalam sepi, mereka menyatukan diri. (Agus Riyanto)