Oleh Ibnu PS Megananda
Tentang kemanfaatan diri tidak selalu tumbuh di setiap benak. Begitu juga ramainya calon pemimpin di Pilkada serentak tidak luput dari rasa ingin bermanfaat, itu adalah alasan para calon pemimpin kepada masyarakat saat mencalonkan diri.
Pelbagai ungkapan baik yang diungkapkan secara langsung dengan berbagai macam programnya, sendiri maupun melalui tim sukses bagaikan bersyair indah, enak didengar dan diterima isinya. Tapi benarkah itu ?.
Lihat baleho-baleho besar yang dipampang di salah satu kota di Banten, ada baleho dengan foto pasangan bakal calon pemimpin dengan moto “keberhasilan tak boleh berhenti”, ada lagi tulisan yang isinya “waktunya ganti dinasti korupsi”. Kata-kata itu tentu ada tujuaannya, yang pasti untuk menguatkan kepercayaan warga pada bakal calon pemimpinnya.
Perhelatan Pilkada serentak seakan menyajikan calon pemimpin terbaik. Diharap warga jangan ragu meski para calon itu saling serang menjatuhkan. Memilih bibit tanaman atau hewan peliharaan tidaklah seruwet saat memilih pemimpin.
Karena yang dipilih para calon dengan timsesnya yang aktif dan saling menyerang. Bahkan saling serang hingga wilayah yang tak pantas dilakukan. Kekuatan dibentuk, sehingga kekuatan itu membentuk jiwa keakuan. Bukan sebuah kebaikan diri dengan keikhlasan. Ini yang membuat pemimpin hasil pilkada banyak yang tidak baik, sehingga pada akhirnya akan tersandung hukum.
Perbuatan membangun diri dengan jiwa yang stabil, sesungguhnya bisa dengan kegiatan rajin menulis. Boleh menulis sastra, opini, artikel, geografi, advertorial dan sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Komjen Pol Drs H Firli Bahuri M.Si. Ia menulis pidatonya sendiri, katanya karena kebiasaannya menulis puisi.
Dengan rajin menulis, tentu pengembangan pikiran bertambah baik. Upaya yang dilakukan pemerintah setiap tahun mengadakan lomba-lomba baca puisi, cerpen, dongeng dan lomba menulis, sesungguhnya cukup baik, namun tidaklah sekedar lomba. Begitu pula dengan upaya memajukan literasi yang dilakukan Perpustakaan kabupaten, kota, provinsi dan pusat.
Tanggal 22 September 2020 akan ada lomba baca cerita tingkat Kabupaten Serang, kebetulan Saya (penulis) adalah salah satu jurinya. Serang sebagai daerah kelahiran Syech Nawawi Al Bantani Al Jawi adalah seorang penulis dan banyak kitab-kitabnya, wajar budaya menulis dan literasinya terus dikembangkan.
Ini juga harus didukung pihak lain, lembaga atau dinas lain, seperti Disperindagkop Kabupaten Serang yang memberi bantuan melalui UMKM. Dengan demikian harus memberi kesempatan bantuan pada penerbit-penerbit buku yang bermodalkan kecil.
Artinya, dengan bantuan itu penerbit kecil itu bisa dapat terus menerbitkan buku dan turut menghidupkan dunia baca dan literasinya. Itulah kekuatan kemandirian berpikir luas dengan menulis, agar tercipta pemimpin yang berpikiran luas dan berarti bagi masyarakat pula, tidak Adipati seperti di puisi WS Rendra, “Demi Orang-orang Rangkasbitung”. Sedang pemimpin punya otoritas menulis, itu.* (Penulis, penyair budayawan)

