Kesalahan Semantik yang Kita Warisi

Oleh: Adi Suparto

Ada satu kekeliruan yang begitu lama hidup dalam bahasa kita hingga nyaris tak lagi terasa sebagai kesalahan: menerjemahkan “qalb” menjadi “hati”. Ia terdengar wajar, akrab, bahkan puitis. Namun justru karena itulah, kesalahan ini berbahaya ia tidak disadari, tetapi terus membentuk cara berpikir kita.

Masalahnya sederhana, tapi mendasar: ini adalah kesalahan semantik.

Dalam bahasa Arab, “qalb” (قلب) tidak pernah merujuk pada liver. Secara etimologis, kata ini berarti sesuatu yang berbolak-balik dinamis, berubah dan dalam penggunaan klasik, ia menunjuk pada jantung, organ yang berdetak di dalam dada. Kamus-kamus otoritatif seperti Lisan al-Arab menegaskan hal itu tanpa ambiguitas: qalb adalah jantung.

Namun ketika masuk ke dalam bahasa Melayu-Indonesia, terjadi pergeseran makna. “Qalb” diterjemahkan menjadi “hati”. Di sinilah akar masalahnya. Dalam bahasa kita, “hati” memiliki dua arti yang berbeda: pertama sebagai organ (liver), kedua sebagai pusat rasa (emosi, nurani). Ambiguitas ini membuka ruang kekeliruan: makna metaforis bercampur dengan makna anatomis.

Akibatnya, sesuatu yang semula jelas menjadi kabur. Qalb yang secara fisik merujuk pada jantung justru dipahami sebagai liver, organ yang secara ilmiah tidak memiliki hubungan langsung dengan emosi, kesadaran, atau memori. Inilah yang disebut kesalahan semantik: pergeseran makna yang mengubah pemahaman.

Ilmu pengetahuan modern justru mempertegas kekeliruan ini. Dalam dunia medis, liver berfungsi sebagai pusat metabolisme: menyaring racun, mengolah nutrisi, memproduksi empedu. Ia vital, tetapi tidak berperan dalam pengalaman emosional manusia.

Sebaliknya, jantung menunjukkan kompleksitas yang jauh lebih relevan dengan konsep “qalb”. Penelitian neurokardiologi menemukan bahwa jantung memiliki sistem saraf sendiri sering disebut “otak kecil” yang mampu memproses informasi dan berkomunikasi intens dengan otak. Bahkan, aliran sinyal dari jantung ke otak lebih dominan dibanding sebaliknya.

Respons tubuh terhadap emosi juga menguatkan hal ini. Ketika marah, takut, atau bahagia, yang langsung bereaksi adalah jantung: berdebar, berdetak cepat, terasa nyata. Tidak ada pengalaman emosional yang membuat liver “berdenyut”. Tubuh kita sendiri sebenarnya sudah memberi petunjuk, tetapi bahasa yang kita pakai justru menyesatkannya.

Kesalahan ini juga tampak jelas secara anatomi. Jantung berada di dada selaras dengan banyak deskripsi tentang qalb sebagai sesuatu yang berada “di dalam dada”. Sementara liver terletak di rongga perut kanan, jauh dari gambaran tersebut. Ketidaksesuaian ini bukan sekadar detail, melainkan bukti bahwa terjemahan yang kita pakai tidak akurat.

Lalu mengapa kesalahan ini terus bertahan?

Karena ia dilindungi oleh budaya. Dalam tradisi Melayu, “hati” telah lama menjadi simbol rasa dan nurani. Ia hidup dalam sastra, doa, dan percakapan sehari-hari. Namun simbol tidak sama dengan fakta. Ketika simbol dipaksakan menjadi rujukan ilmiah atau tekstual, di situlah kesalahan semantik berubah menjadi kesalahan pemahaman.

Penting untuk ditegaskan: ini bukan soal mengganti bahasa secara kaku, melainkan meluruskan makna. “Hati” boleh tetap digunakan sebagai metafora. Tetapi ketika berbicara tentang “qalb” terutama dalam konteks ilmiah dan keilmuan kita harus jujur: yang dimaksud adalah jantung, bukan liver.

Mengabaikan hal ini berarti membiarkan kekeliruan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dan dalam hal memahami manusia emosinya, kesadarannya, bahkan spiritualitasnya kesalahan semantik seperti ini bukan hal kecil.

Sudah saatnya kita menyebutnya apa adanya: menerjemahkan “qalb” sebagai “hati” (liver) adalah kesalahan semantik. Dan memperbaikinya bukan sekadar urusan bahasa, melainkan langkah menuju ketepatan berpikir.