Jayapura – Javanewsonline.co.id | Mutilasi 4 warga di Timika motifnya diduga rencana jual beli senjata akhirnya dijebak oleh oknum anggota TNI.
“Kasus mutilasi 4 warga di Timika diduga karena jual beli senjata api, hingga 4 warga sipil menjadi korban dan itu adalah jebakan oknum TNI,” hal itu dikatakan Anggota DPR Papua John NR Gobai, melalui release kepada media, Selasa (6/9).
Menurut Gobai, mutilasi terhadap 4 orang warga sipil diduga dilakukan oleh anggota pasukan non-organik. DPR Papua mendesak agar pasukan non-organik ditarik dari Papua, termasuk ketika bertemu dengan Komisi 1 DPR RI.
“Selalu kita sampaikan untuk tarik pasukan non organik, tapi sayangnya Komisi I DPR RI sampai hari ini belum pernah menggelar rapat dengar pendapat dengan pemerintah dan tokoh-tokoh, serta lembaga di Papua, dengan mengundang Panglima TNI, seperti yang kita usulkan,” ujar Ketua Poksus DPR Papua itu.
Lebih lanjut, Gobai mengatakan, di Papua tidak ada pabrik senjata maupun amunisi. “Papua tidak ada pabrik senjata dan amunisi, bila kehadiran pasukan non organik pada akhirnya ada oknum yang melakukan jual beli amunisi dan senjata, ya sebaiknya pasukan ini ditarik dan tidak perlu lagi ditempatkan di Papua,” katanya.
Untuk kasus mutilasi ini, ungkapnya, pasukan tersebut harus dihukum mati agar menjadi pelajaran bagi oknum lainnya. “Untuk menjadi pelajaran bagi anggota yang lain, agar tidak begitu saja melakukan praktek jual beli amunisi dan senjata di Papua dan mereka harus dihukum mati,” tegasnya.
Ia menambahkan, jual beli amunisi dan juga senjata sudah terjadi di Papua, dan bukan rahasia lagi, sebab banyak kasus yang sudah terekspos di media. “Banyak kasus jual beli amunisi, bukan rahasia lagi, karena di media sudah banyak beredar,” pungkasnya. (aw)

