Keerom – Javanewsonline.co.id | Kondisi ruas Jalan Trans Papua yang melintasi ujung Kampung Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Papua, terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Sedikitnya lima titik di jalur tersebut mengalami kerusakan berat, bahkan sempat hampir terputus akibat longsor yang terjadi pada Agustus dan September 2025. Hingga kini, belum ada tanda-tanda perbaikan dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.

longsosan km 110 dengan panjang rusak
dan longsoran 100 meter jakan belum beraspal dan rusak

Ruas jalan yang menjadi penghubung vital antara Kabupaten Keerom dan wilayah pegunungan Papua itu kini berubah menjadi medan sulit bagi pengguna jalan. Aspal yang mengelupas, lubang besar, hingga jembatan yang tergerus longsor membuat warga setempat harus berhati-hati melintas, terlebih saat musim hujan.

“Rusaknya jalan Trans Papua di Kampung Ampas, termasuk longsoran di jembatan utama, sudah sangat memprihatinkan. Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR, Pemprov Papua, dan DPR Papua dari dapil Keerom jangan diam saja. Ini harus jadi prioritas pembangunan,” ujar Ayub Yuur, Tokoh Pemuda Keerom, saat ditemui di lokasi, pekan lalu.

titik jaln rusak km 112 jalan berlumpur dan rusak
serta ketika hujan berlumpur sepanjang 10 meter

Menurut Ayub, jalan rusak di wilayah perbatasan itu bukan sekadar masalah kenyamanan berkendara, melainkan telah berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Anak-anak sekolah harus berjalan kaki berjam-jam karena kendaraan enggan melintas, sementara akses layanan kesehatan darurat kerap terhambat oleh jalan berlumpur dan rusak parah.

“Kalau ada warga yang sakit atau harus ke rumah sakit di Waris, kadang harus menunggu lama sampai ada mobil lewat. Kadang warga harus gotong tandu untuk membawa pasien,” ujarnya.

Jalur Vital di Perbatasan

Jalan Trans Papua di Keerom merupakan bagian penting dari jaringan Trans Irian yang menghubungkan Papua induk dengan Papua Pegunungan. Jalur ini juga berperan strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah atas Keerom, termasuk akses menuju pasar, sekolah, dan pusat pelayanan pemerintahan.

titik jalan rusak di jembatan ampas panjang lon sorang
30 meter dan status longsoran sejak 15 februari 2024

Namun, kondisi jalan yang rusak berat justru menghambat distribusi barang dan memperlambat perputaran ekonomi di daerah. Banyak pengemudi enggan melewati jalur tersebut karena risiko kerusakan kendaraan dan waktu tempuh yang tidak pasti. Akibatnya, harga kebutuhan pokok di Kampung Ampas dan sekitarnya cenderung lebih tinggi dibandingkan wilayah bawah Keerom.

“Kalau hujan turun, mobil pengangkut sembako bisa terjebak berjam-jam di jalan berlumpur. Ini tentu berdampak pada harga di pasar,” kata seorang warga setempat, Maria Imbiri, yang sehari-hari berdagang bahan pokok di Kampung Ampas.

Kerusakan paling parah terjadi di kilometer 76 ruas Waris-Keerom, di mana longsor besar sempat menutup sebagian badan jalan dan merusak struktur jembatan. Sejumlah titik lain di sekitar Kampung Ampas juga tampak berlubang dan tidak lagi beraspal.

Harapan pada Pemerintah

Warga berharap pemerintah tidak hanya meninjau, tetapi juga segera menindaklanjuti perbaikan jalan tersebut. Mereka menilai sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten mutlak dibutuhkan agar proses perbaikan berjalan cepat dan berkelanjutan.

Dalam usulan tertulis yang disampaikan kepada media, masyarakat Distrik Waris mengajukan agar dilakukan koordinasi lintas lembaga antara Dinas PUPR Provinsi Papua, Dinas Bina Marga, dan Pemerintah Kabupaten Keerom, bahkan jika perlu melibatkan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional.

Pemerintah provinsi, menurut usulan itu, juga diminta mengirim surat resmi kepada Pemerintah Kabupaten Keerom untuk menyusun pola kerja bersama (joint program) dalam penanganan ruas jalan Trans Papua tersebut. Dengan demikian, beban pembiayaan dan tanggung jawab perbaikan dapat dibagi secara proporsional antara pemerintah daerah dan pusat.

“Kami tidak menuntut lebih, hanya ingin akses kami layak dan aman. Jalan ini adalah urat nadi kehidupan kami di Keerom. Kalau rusak begini terus, ekonomi sulit maju,” tegas Ayub Yuur.

Belum Ada Tindakan

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda perbaikan di lapangan. Pantauan wartawan Javanewsonline.co.id Papuamenunjukkan, sejumlah titik kerusakan di jalur Trans Papua di Kampung Ampas masih terbuka lebar. Pengendara harus berhenti dan memilih jalur alternatif di sisi jalan tanah yang licin.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Keerom belum memberikan keterangan resmi terkait rencana penanganan ruas tersebut. Namun, sumber di lingkungan Pemerintah Keerom menyebut bahwa pihaknya telah menyampaikan laporan kondisi jalan ke Pemerintah Provinsi Papua dan menunggu tindak lanjut dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dalam jangka panjang, warga berharap perbaikan jalan Trans Papua di wilayah Keerom tidak hanya bersifat tambal sulam, tetapi menjadi bagian dari program pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek keselamatan, kualitas konstruksi, dan daya tahan terhadap kondisi alam Papua yang ekstrem.

“Kalau jalan bagus, bukan hanya mobil bisa lewat lancar, tapi juga anak-anak sekolah, tenaga medis, dan pedagang bisa bergerak lebih cepat. Itu artinya pembangunan benar-benar sampai ke kampung kami,” ujar Maria.

Bagi masyarakat Kampung Ampas, jalan bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan simbol kehadiran negara di wilayah perbatasan. Ketika jalan dibiarkan rusak bertahun-tahun, mereka merasa seolah terputus dari perhatian pusat. “Keerom bagian dari Indonesia. Kami juga ingin merasakan pembangunan yang sama,” kata Ayub. (Pam)