Jakarta – javanewsonline.co.id | Rektor Universitas Respati Indonesia (URINDO), Prof. Dr. Cicilia Windiyaningsih, S.K.M., M.Kes., menegaskan pentingnya penguatan sistem kewaspadaan dini (early warning system) terhadap penyakit infeksi menular di tengah situasi global dan nasional yang semakin tidak menentu.

Menurut Prof. Cicilia, ancaman penyakit menular baru masih sangat nyata, sebagaimana pengalaman pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Saat ini, dunia kembali dihadapkan pada munculnya wabah Virus Nipah (Nipah Virus/NiV) yang dilaporkan terjadi di sejumlah negara seperti India dan Bangladesh, dengan tingkat fatalitas yang tinggi pada manusia.

“Penyakit infeksi menular bersifat dinamis, agresif, dan berpotensi bermutasi. Karena itu, surveillance atau pengawasan harian berbasis gejala, deteksi dini, isolasi kasus positif, serta karantina kontak erat menjadi keharusan,” ujar Prof. Cicilia dalam diskusi bersama civitas akademika URINDO.

Ia menekankan bahwa sektor kesehatan perlu memiliki health security programs yang fokus pada peningkatan ketahanan sistem kesehatan nasional serta upaya pencegahan wabah sejak dini. Salah satu langkah strategis adalah memasukkan manajemen risiko pandemi dan kebencanaan ke dalam kurikulum pendidikan, khususnya pada program studi ilmu kesehatan masyarakat.

“Manajemen risiko harus diajarkan sebagai pelajaran penting dari Covid-19, agar ke depan kita tidak lagi kekurangan oksigen, ventilator, ruang isolasi, maupun fasilitas karantina. Semua input mulai dari sumber daya manusia, pendanaan, SOP, regulasi, sistem digital, hingga sarana prasarana harus selalu dalam kondisi siap siaga,” jelasnya.

Prof. Cicilia, yang pernah terlibat langsung sebagai anggota Satuan Tugas Tracing Covid-19, menilai bahwa sejumlah negara seperti Amerika Serikat, India, Mesir, dan China telah lebih siap dalam membangun sistem surveilans berbasis laboratorium, baik yang sederhana maupun canggih. Ia mencontohkan keberadaan lembaga seperti CDC di Atlanta dan Fort Collins, serta kesiapan China dalam memproduksi seed virus untuk kebutuhan diagnostik dan vaksin.

“China sangat cepat dalam riset dan produksi vaksin karena dukungan riset longitudinal berskala besar dan pembiayaan penuh dari pemerintah. Di era digital dan kecerdasan buatan, pemetaan pola penyakit dan tata laksana pengobatan bisa dilakukan lebih efektif,” ujarnya.

Terkait Indonesia, Prof. Cicilia berharap Kementerian Kesehatan dapat memperkuat sistem surveilans laboratorium secara berkelanjutan. Ia juga menyinggung wacana pengembangan institusi surveilans berbasis laboratorium berteknologi tinggi di kawasan Sentul atau Bogor, yang diharapkan mampu mendukung pengembangan bahan diagnostik, antigen, hingga vaksin dalam negeri.

Ia turut menyoroti belum optimalnya keberlanjutan Forum Vaksin Nasional yang sebelumnya dipelopori Kementerian Kesehatan dan Bio Farma. “Forum vaksin sangat penting sebagai wadah kolaborasi. Pengembangan vaksin tidak bisa berdiri sendiri, pasti membutuhkan kerja sama lintas sektor dan internasional,” katanya.

Dalam refleksi penanganan Covid-19, Prof. Cicilia menilai kolaborasi ilmiah, kesiapan riset, serta kepemimpinan yang tekun menjadi kunci. Ia juga mengapresiasi upaya pengembangan Vaksin Merah Putih sebagai langkah strategis menuju kemandirian kesehatan nasional.

“Saya memilih fokus di dunia pendidikan karena menyiapkan sumber daya manusia kesehatan yang tangguh adalah investasi jangka panjang. Kesiapsiagaan pandemi harus dimulai dari kampus, riset, dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan masyarakat,” pungkasnya. (Liu)