Pangkep – Javanewsonline.co.id | Di tepian sungai Pangkajene, di Kelurahan Jagong dan Kelurahan Tekolahbua, terbentang pembangunan yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat. Di antara sorotan hujan yang turun dengan deras dan kecemasan akan banjir yang sering menghantui, terhampar pula harapan. Harapan akan sebuah solusi yang tiba seperti cahaya di ujung lorong gelap, dan inilah cerita tentang pembangunan talud sungai.

Sungai Pangkajene yang telah lama menjadi saksi bisu dari banjir yang melanda Kelurahan Jagong dan Kelurahan Tekolahbua akhirnya mendapatkan perhatian yang pantas. Melalui upaya pembangunan talud yang sedang dilakukan dengan sumber dana dari pusat, kementerian PUPR, Dirjen Sumber Daya Air BBWSPJ, SNVT PJSA Pompengan Jeneberang pada tahun anggaran 2023, masyarakat setempat merasakan bahwa ada harapan baru.
Pembangunan talud ini memiliki nilai kontrak yang mencapai angka yang cukup mengesankan, mencerminkan komitmen yang serius untuk menghadapi masalah banjir yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sukma Paramita Spd, seorang politisi muda dari partai Demokrat yang berdomisili di Kelurahan Tekolahbua, menjelaskan bahwa talud yang sedang dikerjakan ini diharapkan dapat mengurangi dampak banjir. Ia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa tingginya tanggul talud sungai jauh lebih memadai dibandingkan dengan saat banjir melanda sebelum pembangunan ini dimulai.
Namun, yang membuat proyek ini begitu istimewa adalah komunikasi yang erat antara pelaksana proyek dan masyarakat yang terdampak. Masyarakat dapat mengemukakan keinginan mereka, dan pihak pelaksana proyek dengan bijak mendengarkan serta bekerja sama untuk menemukan solusi terbaik. Inilah bentuk kerja sama yang membanggakan antara pemerintah dan warganya.
Ketua RW1 Kampung Bantilang, Ambo Sakka, merasa bersyukur dan terbantu oleh hadirnya proyek ini. Ia mewakili suara rakyat yang telah bertahun-tahun berharap akan pembangunan talud sungai dari pemerintah daerah maupun pusat. Sekarang, harapan mereka menjadi nyata.
Pekerjaan pembangunan talud ini berjalan lancar dan cepat berkat tersedianya tenaga kerja, material, dan alat penunjang yang diperlukan. Proyek ini menjadi semakin spesial karena melibatkan partisipasi masyarakat, yang memberikan kontribusi berharga untuk kelancaran pekerjaan.
Namun, seperti dalam setiap proyek besar, ada tantangan yang harus dihadapi. Ada sekitar 50 meter yang belum dikerjakan dalam pasangan talud karena kendala izin dari pihak sekolah dasar yang terdampak oleh proyek ini. Namun, para pelaksana berharap agar izin segera diberikan sehingga proyek dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Semua ini menjadi sebuah narasi tentang harapan dan perjuangan yang tumbuh di tepian sungai Pangkajene. Kisah tentang bagaimana sebuah proyek pembangunan talud sungai menjadi ikon perubahan, membantu masyarakat mengatasi banjir yang telah lama menghantui mereka, dan menghadirkan harapan yang bersinar terang di tengah-tengah kegelapan banjir yang sering datang. Ini adalah cerita yang menginspirasi, tentang bagaimana bersatu kita dapat mengatasi rintangan besar dan menciptakan masa depan yang lebih cerah. (Jufri)

