Serang – Javanewsonline.co.id | Layanan perbankan di kantor pusat Bank Banten di Jalan Veteran, Kota Serang, lumpuh total setelah aksi demonstrasi Koalisi Aksi Rakyat (Koar) Banten, Rabu, 17 September 2025. Ratusan massa memenuhi area masuk kantor sehingga kendaraan nasabah tidak dapat mengakses halaman bank.

Pantauan di lokasi, massa tiba sekitar pukul 11.30 WIB. Setelah menggelar makan bersama di depan pagar, aksi berlanjut dengan orasi, karaoke, hingga berjoget. Koordinator Koar Banten, Rahmat Gunawan, menegaskan bahwa aksi jilid II ini digelar karena belum ada jawaban memadai dari manajemen Bank Banten terkait tuntutan pada aksi sebelumnya.
“Kami menanyakan soal uang kredit macet, kredit fiktif, sampai kasus pembobolan brankas oleh karyawan. Apakah dana itu sudah dikembalikan ke negara atau belum. Kalau sudah, berapa jumlahnya. Kalau belum, kenapa,” ujar Gunawan.

Menurutnya, kredit macet senilai Rp247 miliar hingga kini belum ada kejelasan. Namun Bank Banten tetap meminta tambahan penyertaan modal dari Pemerintah Provinsi Banten sebesar Rp1,7 triliun. “Transparansi yang dijanjikan tak kunjung dipenuhi. Ini membuktikan ketidakbecusan direksi dalam mengelola bank daerah,” katanya.
Koar juga menuntut bukti perjanjian Kerja Sama Usaha (KUB) antara Bank Banten dan Bank Jatim. Menurut Gunawan, publik tidak pernah mengetahui detail perolehan saham maupun pembagiannya. Padahal, modal inti Bank Banten per Juni 2025 masih minus Rp1,3 triliun sehingga memaksa Pemprov Banten menyuntikkan modal melalui inbreng aset senilai Rp139 miliar.
“Sekarang ini belum jelas siapa sebenarnya pemegang saham pengendali, apakah Pemprov Banten atau Bank Jatim. Publik berhak tahu,” tegasnya.
Koar mendesak Gubernur Banten, Andra Soni, meninjau ulang kondisi Bank Banten secara objektif. Mereka juga menuntut Komisaris dan Direktur Utama beserta jajaran direksi dicopot karena dianggap gagal dan anti kritik. “Alih-alih menemui massa, mereka justru keluar lewat pintu belakang,” kata Gunawan.
Aksi ditutup dengan ancaman menggelar jilid III dengan massa lebih besar jika tuntutan tidak dipenuhi. Selama demonstrasi, aktivitas Bank Banten terhenti total. Sejumlah nasabah bahkan menyatakan kekecewaan dan berencana memindahkan dananya ke bank lain.
“Kalau begini terus, lebih baik saya tarik uang saya dan simpan di bank lain yang sehat,” ujar seorang nasabah perempuan yang gagal masuk ke kantor bank. (Jar)

