Oleh: Lutfah

Lesman Bangun mengingat dengan jelas bagaimana dulu koran-koran lokal di Banten menjadi teman sarapan pagi masyarakat. Suara mesin cetak berdentum setiap dini hari, mengantar berita ke warung kopi dan kios kecil di sudut kampung Namun, kini, dentuman itu makin sayup terdengar, tergantikan oleh bunyi notifikasi layar ponsel.

“Sekarang orang lebih dulu buka WhatsApp atau Instagram ketimbang baca koran,” ujar Lesman, saat ditemui usai forum diskusi penguatan industri pers Banten, Jumat, 2 Mei kemaren.

Sebagai Dewan Penasehat Serikat Perusahaan Pers (SPS) Banten, Lesman menyaksikan langsung perubahan lanskap media yang berjalan cepat dan kadang tak memberi kesempatan untuk bersiap. Digitalisasi, menurutnya, bukan sekadar soal beralih dari cetak ke daring. Ini tentang perubahan budaya konsumsi informasi, tantangan pendanaan, dan krisis kepercayaan terhadap jurnalisme itu sendiri.

Ia menyebut, media lokal Banten kini berada di persimpangan. “Bukan hanya kehilangan pembaca, mereka juga kehilangan pengiklan, bahkan kehilangan arah,” kata Lesman, suaranya terdengar pelan namun tegas.

Meski tantangan menggunung, Lesman tidak ingin larut dalam pesimisme. Ia melihat ada potensi besar yang selama ini belum digarap maksimal oleh media lokal. “Populasi Banten besar dan beragam. Infrastruktur digital terus tumbuh. Banyak media baru bermunculan meski masih berskala kecil,” ujarnya.

Bagi Lesman, semua ini bukan sinyal kehancuran, melainkan panggilan untuk berbenah. Lesman percaya bahwa kunci penguatan industri pers ada pada kolaborasi. Ia menggambarkan bagaimana media-media kecil di kabupaten dan kota bisa saling mengisi, berbagi konten, bahkan menyatukan jaringan distribusi. “Kita tidak bisa lagi jalan sendiri-sendiri,” katanya, sambil menunjukkan konsep Forum Media Banten yang kini tengah disusun.

Di forum itu, ia membayangkan lahirnya berbagai pelatihan jurnalistik digital, kerjasama liputan antarmedia, hingga advokasi kebijakan yang melindungi independensi pers lokal.

“Ini bukan mimpi,” tegas Lesman. Ia sudah menggandeng berbagai pihak, dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga organisasi profesi wartawan. Rencana pelatihan jurnalistik digital pun sudah dijadwalkan. Selain itu, pemetaan media lokal aktif di seluruh kabupaten dan kota juga tengah dilakukan untuk mengetahui siapa yang masih bertahan dan siapa yang perlu disokong.

Di usia yang sudah tak muda lagi, Lesman masih rajin menyambangi redaksi-redaksi kecil. Ia tak segan duduk lesehan di warung kopi sambil terus memotivasi pengusaha media kecil, berbicara dengan wartawan yang gajinya tak menentu. “Mereka ini para pejuang. Mereka butuh keyakinan bahwa yang mereka lakukan masih penting,” katanya.

Baginya, media lokal adalah cermin kehidupan warga Banten. Tanpa mereka, suara rakyat akan makin tenggelam di tengah hiruk-pikuk informasi nasional dan global yang kian tak berjarak. Karena itu, ia bertekad, selagi ada semangat, napas media lokal Banten harus terus disambung.

“Industri pers yang sehat bukan soal perusahaan besar atau gedung megah. Ini tentang ekosistem informasi yang memberi ruang bagi kebenaran dan keberagaman,” ujarnya, sebelum pamit, membawa setumpuk draft strategi penguatan industri media yang telah ia siapkan sejak awal tahun.