Lokakarya mini triwulanan Puskesmas Bajeng memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan pelayanan dan kesadaran kesehatan masyarakat di desa wilayahnya

Oleh: Syarifuddin

Pagi itu, suasana di wilayah Kecamatan Bajeng terasa berbeda. Sejumlah kepala desa, tenaga kesehatan, hingga aparat keamanan berkumpul dalam satu forum yang bukan sekadar rapat biasa. Di ruang sederhana itulah, harapan tentang kesehatan masyarakat dirajut bersama melalui Lokakarya Mini Triwulanan UPT Puskesmas Bajeng Tahun 2026.

Kegiatan yang digelar setiap tiga bulan sekali ini menjadi denyut nadi koordinasi lintas sektor dalam memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal hingga ke pelosok desa. Dipimpin langsung Kepala Puskesmas Bajeng, dr. Ilham, bersama Camat Bajeng H. Achmad Rajab, pertemuan ini menjadi ruang temu antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat.

Lebih dari sekadar agenda rutin, lokakarya ini menjadi cermin kondisi kesehatan masyarakat di wilayah Bajeng. Data demi data dipaparkan mulai dari capaian layanan kesehatan, kondisi fasilitas di desa, hingga berbagai tantangan yang masih dihadapi. Semua disampaikan secara terbuka, menjadi bahan evaluasi bersama.

Di balik angka-angka itu, tersimpan upaya besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik. Para bidan desa, kader PKK, hingga perangkat desa saling berbagi pengalaman. Mereka berdiskusi tentang bagaimana membangun kebiasaan hidup sehat, menguatkan posyandu balita dan lansia, hingga mendorong masyarakat rutin memeriksakan kesehatan.

Kehadiran unsur TNI dan Polri melalui Koramil 1409-06 Bajeng dan Polsek Bajeng menambah kekuatan kolaborasi. Pendampingan yang dilakukan bukan hanya simbolis, tetapi menjadi bentuk nyata perhatian pemerintah dalam memastikan program kesehatan benar-benar menyentuh masyarakat.

Salah satu fokus utama yang terus digaungkan adalah pentingnya sanitasi berbasis masyarakat. Program Open Defecation Free (ODF) dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menjadi prioritas bersama. Desa-desa yang belum mencapai status ODF didorong untuk berbenah, sementara desa yang sudah lebih maju diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lainnya.

Tak hanya itu, dukungan pemerintah desa juga menjadi sorotan penting. Penyediaan sarana cuci tangan, pengelolaan saluran pembuangan air limbah (SPAL), hingga kegiatan senam dan edukasi kesehatan menjadi bagian dari gerakan bersama membangun lingkungan sehat.

Bagi masyarakat Bajeng, lokakarya ini bukan sekadar forum diskusi. Ia menjadi ruang belajar, berbagi, sekaligus memperkuat komitmen bersama. Dari pertemuan inilah lahir berbagai inovasi pelayanan kesehatan yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.

Pada akhirnya, langkah-langkah kecil yang dibahas dalam forum ini diharapkan bermuara pada satu tujuan besar: menghadirkan pelayanan kesehatan yang prima, merata, dan berkelanjutan. Dari Bajeng, upaya itu terus digelorakan membangun desa yang sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.