Madiun – Javanewsonline.co.id | Koperasi karyawan PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun melaporkan, bahwa adanya selisih neraca dalam pembukuan yang berjumlah hingga 700 juta rupiah lebih merupakan kesalahan dalam pencatatan transaksi.

Dalam sebuah pemberitaan, Ketua Pengurus koperasi (Wahana Tirta Artha) WTA yang saat ini menjabat menjelaskan, bahwa berdasarkan rapat anggota luar biasa, jumlah selisih tersebut dianggap sebagai kerugian koperasi. Sejumlah Rp 325 juta yang harus ditanggung pengurus baru. Dengan begitu, anggota koperasi gagal meraup laba bersih dari aktivitas koperasi.

Di sisi lain, anggota koperasi WTA merupakan gabungan dari karyawan PDAM Kota Madiun dan Perusahaan Daerah Bank Pasar atau sekarang bernama Perumda Bank Daerah Kota Madiun.

Kabag Umum Bank Daerah Kota Madiun, Heri Susanto menyebutkan bahwa koperasi WTA meminta berdiri sendiri mulai tahun 2020. “Kita (Bank Pasar) memang ada andil sebagai anggota koperasi Wahana Tirta Artha Jadi dulu itu, PDAM (Kota Madiun,red) karyawannya sedikit, lalu meminta kita untuk bergabung biar mencukupi jumlah anggota koperasi. Namun di tahun 2020 mereka menghendaki memisahkan diri, berdiri sendiri karena karyawannya sudah banyak,” terang  Heri Susanto, Jumat (12/8).

Heri pun menjelaskan adanya selisih antara laporan pembukuan koperasi dengan laporan Bank Pasar terkait iuran yang telah disetor ke WTA. “Jadi waktu itu mereka mengkonfirmasi jumlah iuran anggota yang dari Bank Pasar. Pembukuan versi koperasi PDAM (Kota Madiun,red) berbeda dengan catatan besaran iuran yang telah kami setorkan, karena kami juga membukukan setiap menyetorkan iuran anggota,” jelasnya.

Selanjutnya pengurus dan anggota koperasi mengadakan rapat hingga mencapai kesepakatan bahwa pihak koperasi PDAM Kota Madiun akan membayarkan penuh hak anggota sesuai pembukuan dari Bank Pasar. Sebanyak kurang lebih 20 anggota koperasi WTA yang berasal dari Bank Daerah Kota Madiun telah menerima penuh uang iuran yang selama ini mereka setorkan. “Jumlahnya kurang tahu pasti, saya bukan pengurus, tapi tidak sampai ratusan juta,” tandas Heri Susanto. (YM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.