Langkat – Javanewsonline.co.id | Manufacturing pengeringan biji buah pinang di Desa Selesai, Kab Langkat, Sumatera Utara (Sumut), masih berupaya untuk operasional dan ekspor ke Tiongkok, kendati keadilan hukum belum tercapai.

Investasi Tiongkok sektor pengolahan
berbagai produk pertanian, untuk pasar ekspor

Sebagaimana Lei Huibin, investor yang legal berkewarganegaraan Tiongkok yang menjadi korban kriminalisasi partner bisnis sendiri. Dari awal kerjasama usahanya sempat lancar termasuk pembukaan pabrik, tapi di tengah jalan, partner bisnisnya mengkriminalisasinya.

“Kami mau proses harus cepat, karena laporan kami, terkait dugaan pemalsuan akta sudah diproses di Bareskrim (Badan Reserse Kriminal). Benchmark nya, kami hanya bisa menunggu sampai satu bulan ke depan. Karena kasus ini sudah diproses sejak Juni 2022,” kata Lei Huibin, yang diterjemahkan oleh istrinya, Herlina Sutanti.

Proses pengeringan biji buah pinang
dengan boiler dan oven

Perusahaan, investasi Tiongkok berusaha agar berbagai produk pertanian Indonesia bisa diekspor. Selain  pinang, perusahaan juga berencana ekspor kopra, durian, kopi, briket arang, dan tanaman-tanaman alam Indonesia.

Ia optimis, produk pertanian dan hortikultura asalIndonesia diminati masyarakat di Tiongkok atau negara lain. Terlebih lagi pabrik yang dibangun Lei Huibin memiliki teknologi yang lengkap, dengan kapasitas Gudang pendingin  seluas 800m3.

“Tapi kembali lagi permasalahan kepastian hukum di Indonesia. Posisi kami terjepit, setelah partner bisnis kami diduga kuat bermufakat dengan oknum penyidik Polda Sumut dan oknum penyidik Polres Binjai Sumut,” kata Lei Huibin.

“Yang menyebabkan oknum penyidik Polda Sumut dengan cepat menetapkan saya sebagai tersangka, menolak mendengar semua penjelasan saya, menolak bukti saya dan mau menangkap saya. Saya menolak ditersangkakan atas laporan yang tidak pernah saya lakukan, saya mengambil gunting untuk ditusuk ke leher dan berusaha bunuh diri” Kata Lei Huibin pasca insiden yang terjadi.

Korban akhirnya berhasil menyelamatkan diri ke Jakarta, namun itu tidak membuatnya tenang, karena Oknum Penyidik Polres Binjai sengaja menguntit hingga ke tempat tinggalnya, menyebabkan ia tidak bisa tinggal lagi ditempat itu, karena dikira penjahat kelas kakap oleh pemilik tempat tinggalnya.

“Partner Kerjasama (WNA) juga mengancam secara terang-terangan mau mematahkan leher saya, memotong telur saya dan mengebiri saya. Parahnya lagi, mereka juga mengolok-ngolok Negara Indonesia dengan mengatakan Indonesia adalah negara miskin, mereka juga mengatakan sudah mengendalikan kota Medan meskipun belum sepenuhnya,” paparnya.

Proses pengolahan  pinang sangat mudah, tanpa perlu teknologi yang tinggi. Sementara prospeknya ke depan semakin menjanjikan, karena  pinang dimanfaatkan sebagai bahan baku permen karet. Selama ini, perusahaan juga mendulang pinang dari Vietnam dan Myanmar.

“Tapi yang paling memenuhi standar (untuk diolah), pinang asal Vietnam. Lalu, disusul Indonesia, Myanmar. Minimal, observasi dan pengalaman kami usaha pengolahan kami seperti itu,” kata Lei Huibin.



Selama ini, pabrik pengolahan mengumpulkan pinang dari petani sekitar kecamatan Stabat, (Langkat), Kutacane (Aceh Tenggara). Lahan penanaman di sekitar Langkat, selama ini berhubungan dengan agen pengepul.

PT Aroma Jaya Indonesia yang process (kelola) secara langsung. PT Aroma juga yang lebih familiar dengan usaha pertanian pinang. Proses pengeringan dengan boiler dan oven. Pinang langsung dimasukan ke boiler, ketika tiba di pabrik. Lalu, pinang direbus selama satu jam dengan suhu 100 derajat celcius.

“Setelah itu, pinang diangkat dengan crane, masuk ke oven, dikeringkan empat hari. (kondisi pinang) tidak boleh lembab, tidak terlalu kering. Perusahaan menyerap pinang petani sekira 40 ton/hari, yang siap ekspor. pinang yang hijau, yang dikeringkan. Setelah bentuk kering, tidak dikupas, melainkan disortir dan siap ekspor melalui pelabuhan terdekat,” kata Lei Huibin. (SL)  

One thought on “Investor Pengolahan Pinang di Langkat Mau Tetap Ekspor Di Tengah Permasalahan Hukum”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.