Jember, – Javanewsonline.co.id |  Enam Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Jember menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan rehabilitasi lahan dan penguatan program perhutanan sosial yang menjadi bagian dari Sosialisasi Program Result Based Payment (RBP) REDD+ GCF Output 2 Jawa Timur.

Program ini bertujuan memperkuat peran masyarakat desa hutan dalam menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi berbasis sumber daya hutan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam mendukung target nasional pengurangan emisi karbon.

Kepala CDK Wilayah Jember menjelaskan bahwa peran KTH sangat penting dalam mendukung pelaksanaan program REDD+, terutama di wilayah dengan tekanan lahan yang tinggi.
“Kami mendorong KTH agar menjadi motor penggerak dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan. Program ini tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan ekonomi hijau,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Ir. Jumadi, M.Si., menegaskan bahwa program RBP REDD+ merupakan langkah konkret pemerintah daerah dalam mendukung komitmen nasional menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen secara mandiri dan 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030, sebagaimana tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

“Jawa Timur berkomitmen untuk terus memperkuat aksi mitigasi perubahan iklim. Salah satu strategi pentingnya adalah dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari melalui pendekatan perhutanan sosial. Ini bukan hanya tentang menjaga hutan, tetapi juga tentang menciptakan keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyat,” kata Jumadi.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program REDD+ tidak terlepas dari sinergi lintas sektor dan dukungan masyarakat di tingkat tapak. “Kami berharap CDK dan seluruh KTH binaan di wilayah Jember dan Bondowoso menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Dengan partisipasi masyarakat yang aktif, penurunan emisi dapat tercapai sekaligus memperkuat ekonomi desa berbasis hutan,” tambahnya.

Melalui program ini, masyarakat desa hutan berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan ekosistem, serta menciptakan nilai tambah ekonomi melalui kegiatan produktif seperti agroforestry, budidaya tanaman kehutanan, dan pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Program REDD+ GCF Output 2 di Jawa Timur diharapkan menjadi model implementasi ekonomi hijau yang sukses. Selain menekan laju deforestasi, program ini juga membangun masa depan desa yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan. Dengan dukungan aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah, Jawa Timur terus menegaskan perannya sebagai provinsi pelopor dalam aksi nyata mitigasi perubahan iklim di Indonesia. (Ida)