Serang — Javaneonline.co.id | Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung-Cidurian bergerak cepat merespons keluhan masyarakat terkait kondisi saluran irigasi Cipari-Ciwuni di Kelurahan Nyapah, Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Instansi di bawah Pemerintah Provinsi Banten ini langsung menerjunkan tim untuk membersihkan sedimentasi lumpur dan rumput liar yang sempat dikeluhkan menghambat aliran air.

Kepala Seksi (Kasi) Operasi dan Pemeliharaan UPTD Pengelolaan DAS Ciujung-Cidurian, Ihat Ruchiyat, ST, MMT, mengonfirmasi kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa area irigasi di Kelurahan Nyapah tersebut bukannya luput dari perhatian, melainkan sudah masuk dalam daftar tunggu (waiting list) pemeliharaan rutin.

“Kondisi di lapangan memang belum sempat ditangani sebelumnya karena tim pemeliharaan rutin tengah menyelesaikan pengerjaan di wilayah irigasi yang lain,” ujar Ihat kepada awak media, Rabu (3/6/2026).

Ihat memaparkan, pemeliharaan rutin di sepanjang jalur irigasi Cipari-Ciwuni yang mencapai kurang lebih 20 kilometer tersebut dilakukan oleh tim khusus beranggotakan 14 personel. Tim ini bekerja secara bergiliran berdasarkan jadwal (schedule) berkala yang telah ditentukan dari satu titik ke titik lainnya.

Sesuai jadwal awal, penanganan irigasi di Kelurahan Nyapah sejatinya dialokasikan pada triwulan kedua, tepatnya pada 8 Juni mendatang. Namun, demi kenyamanan masyarakat dan menanggapi urgensi publik, pihak UPTD memutuskan untuk memajukan jadwal penanganan secara darurat.

“Karena hal ini sudah menjadi perhatian publik, kami langsung bergerak melakukan percepatan hari ini. Lumpur-lumpur langsung kita angkat dan rumput liar dibabat habis. Saat ini kondisi saluran sudah kembali bersih dan lancar,” kata Ihat menambahkan.

Tantangan Lapangan dan Kesadaran Buang Sampah

Di sisi lain, petugas lapangan pemeliharaan irigasi Cipari-Ciwuni, Purwanto, mengungkapkan dinamika dan tantangan yang dihadapi petugas di lapangan. Menurutnya, pertumbuhan vegetasi rumput liar di sepanjang hulu irigasi terbilang sangat cepat, sehingga sering kali saat petugas berpindah ke hilir, rumput di hulu sudah kembali meninggi.

Namun, Purwanto menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi timnya di lapangan saat ini bukanlah faktor alam, melainkan rendahnya kesadaran oknum masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan irigasi.

“Tugas utama kami sebenarnya adalah pemeliharaan fisik irigasi dan pembabatan rumput. Namun di lapangan, kami justru sering kali harus mengangkut sampah domestik rumah tangga mulai dari pampers hingga kasur bekas yang dibuang ke aliran irigasi,” tutur Purwanto.

Ia menyayangkan masih adanya tindakan tidak terpuji dari oknum warga yang sengaja membuang sampah langsung ke dalam parit, bahkan di saat petugas sedang sibuk bekerja membersihkan area tersebut.

Pihak UPTD pun mengimbau dan mengajak seluruh lapisan masyarakat di sekitar bantaran sungai untuk menumbuhkan rasa kepemilikan bersama terhadap fasilitas irigasi. Peran aktif warga untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi kunci utama agar fungsi irigasi sebagai penopang hajat hidup orang banyak dan sektor pertanian dapat terjaga secara berkelanjutan. (Red)