Aroma manis serupa wangi permen karet menyeruak lembut saat melangkah ke sebuah pekarangan rumah di kawasan Kaujon, Kota Serang. Di bawah naungan atap plastik green house yang bersahaja, ribuan butir anggur ungu dan hijau tampak bergelantungan cantik, menantang teriknya matahari Banten. Di sinilah Ibu Ucu NM membuktikan bahwa dengan “sentuhan hati”, tanaman sub-tropis ini tak hanya bisa bertahan hidup di tanah tropis, tapi juga mampu berbuah lebat dan mendatangkan pundi-pundi rupiah yang manis.

Oleh Eben Manurung


Di sebuah sudut jalan di kawasan Kaujon, Kota Serang, tepatnya di Jl. KH. Jamhari No. 5, udara panas khas Banten seolah luruh saat kaki melangkah masuk ke dalam sebuah green house sederhana. Aroma manis yang samar—mirip wangi permen karet menyeruak di antara rimbunnya dedaunan hijau yang merambat rapi.

Di sana, di antara guntalan buah-buah mungil berwarna ungu dan hijau yang bergelantungan, sosok Ibu Ucu NM tersenyum ramah. Bagi anggota Kelompok Tani Pionir Anggur Indonesia ini, deretan tanaman tersebut bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan “anak asuh” yang ia rawat dengan sepenuh jiwa.

Bukan Sekadar Teknik, Tapi Hati

Banyak orang mengira anggur hanya milik tanah sub-tropis yang sejuk. Namun, di pekarangan rumah yang tak seberapa luas ini, Ibu Ucu mematahkan mitos tersebut. Sebanyak 40 varietas anggur dunia tumbuh subur, bersaing memamerkan kecantikannya.

“Membudidayakan tanaman anggur itu tidak sulit,” ujar Ibu Ucu dengan nada tenang. “Asalkan kita rajin, tekun, dan yang terpenting, merawat dan memelihara tanaman ini dengan hati.”

Kalimat “dengan hati” bukan sekadar kiasan. Bagi Ibu Ucu, ketelitian dalam memilih bibit, ketelatenan memangkas tunas yang tak produktif, hingga pengendalian hama secara organik adalah bentuk dialog antara petani dan tanamannya. Kesabaran itulah yang kemudian dibayar tunai oleh alam.

Primadona Bernama Jupiter

Sambil mempersilakan tamu yang datang memetik langsung buah dari batangnya, Ibu Ucu memperkenalkan “bintang” di kebunnya: varietas Jupiter dan Tamaki. Jupiter kini menjadi primadona karena sifatnya yang genjah atau mudah berbuah. Dalam setahun, ia bisa dipanen hingga tiga kali.

“Rasanya manis, tanpa biji, dan aromanya sangat khas. Cocok sekali bagi pemula yang ingin mencoba peruntungan di dunia anggur,” katanya sembari menunjukkan buah anggur yang siap santap.

Untuk menyiasati iklim tropis, ia menggunakan strategi cerdas. Anggur lokal jenis Isabela dijadikan rootstock (batang bawah) karena daya tahannya yang luar biasa terhadap cuaca Indonesia, sementara bagian atasnya disambung dengan varietas impor yang bernilai ekonomi tinggi.

Cuan dan Harapan untuk Milenial

Secara ekonomi, “hobi yang dirawat dengan hati” ini ternyata menghasilkan angka yang sangat manis. Dengan harga jual mencapai Rp 90.000 per kilogram, budidaya anggur menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Belum lagi dari sektor penjualan bibit impor bagi warga yang ingin memulai jejak serupa.

Ibu Ucu tidak ingin sukses sendirian. Ia membuka pintu rumah dan ilmunya lebar-lebar bagi siapapun, terutama anak muda, yang ingin belajar urban farming.

Gayung bersambut, Erry Yanuar, Kabid Penyuluhan dan Kelembagaan Dinas Pertanian Provinsi Banten, turut melihat potensi besar ini. Ia memimpikan Banten memiliki ikon agrowisata anggur yang bisa menjadi kebanggaan daerah sekaligus sumber pendapatan masyarakat.

“Bertani anggur di perkotaan dengan memanfaatkan halaman rumah bisa menghasilkan cuan. Apa lagi saat ini tren urban farming sedang naik daun. Yang penting serius dan konsisten,” ungkap Erry penuh semangat.

Mewujudkan Mimpi Agrowisata

Dukungan dari pemerintah pun mulai mengalir, baik berupa arahan teknis maupun bantuan alat. Bagi Ibu Ucu dan para pionir lainnya, sinergi ini adalah energi tambahan untuk terus mengembangkan kebun mereka.

Di penghujung kunjungan, sebuah mimpi besar tertitip di antara sulur-sulur tanaman anggur di Kaujon. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti, wisatawan yang berkunjung ke Banten tidak hanya mencari pantai, tetapi juga berburu manisnya anggur di tengah kota.

“Kalau Banten sampai punya agrowisata tanaman anggur, keren ya? Dan kita harus berusaha mewujudkannya,” pungkas Erry optimis.