Pemerintah Provinsi Banten Dorong Penguatan Ideologi Pancasila hingga Tingkat Akar Rumput

Serang — Javanewsonline.co.id | Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi digital, Provinsi Banten berkomitmen meneguhkan kembali semangat kebangsaan di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Komitmen itu tercermin dalam kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Pancasila yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Kamis 23 oktober 2025.

Plt. Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Banten,
H. Epi Rustam, S.Kom., M.M.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program strategis Pemerintah Provinsi Banten melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dalam memperkuat ketahanan ideologi di tengah derasnya pengaruh budaya global dan penyebaran informasi digital tanpa batas.

Kabid Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Provinsi Banten, yang mewakili Kepala Badan Kesbangpol membuka kegiatan secara resmi. Acara tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni akademisi sekaligus guru besar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa  Prof Dr Sholeh Hidayat dan SPd MPd, serta motivator nasional Dr Julianus Pongtuluran SE M.Ed. Hadir pula unsur Muspika Ciruas, PKK, DPD, LPM, Kepala Puskesmas, Kepala KUA, MUI, FSPP, kepala desa, RT/RW, serta tokoh masyarakat dan pemuda.

Menurut Plt Camat Ciruas, kegiatan ini penting karena generasi muda kini hidup di era banjir informasi yang sulit dibendung. “Kita tidak bisa menghentikan arus informasi global, tapi kita bisa memperkuat filter ideologi agar anak-anak muda tidak kehilangan arah dan jati diri bangsa,” ujarnya.

Banten dan Tantangan Ideologi Digital

Banten, yang secara geografis berada di jalur strategis ekonomi dan mobilitas masyarakat tinggi, menjadi salah satu wilayah yang paling cepat merasakan dampak globalisasi digital. Dari perkotaan seperti Serang dan Tangerang hingga pedesaan di Lebak dan Pandeglang, penetrasi internet menghadirkan peluang besar sekaligus ancaman baru bagi nilai-nilai kebangsaan.

“Banten adalah miniatur Indonesia beragam budaya dan agama hidup berdampingan. Namun tantangan digital membuat kita harus lebih serius membina kesadaran kebangsaan,” kata Prof Dr Sholeh Hidayat, pakar pendidikan dan kebangsaan yang menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut.

Dalam paparannya, Sholeh menyoroti lemahnya pemahaman generasi Z terhadap wawasan kebangsaan. “Mereka cerdas secara digital, tapi miskin pemahaman ideologis,” ujarnya. Ia merujuk hasil survei Lembaga Survei Indonesia (2018) yang menunjukkan hanya 6,2 persen siswa mampu menjawab benar soal wawasan kebangsaan. “Ini alarm bagi dunia pendidikan di Banten dan Indonesia,” tambahnya.

Pancasila Sebagai Kompas Moral

Bagi Sholeh, pendidikan ideologi Pancasila harus menjadi bagian dari pembentukan karakter di sekolah maupun masyarakat. Ia menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi panduan moral yang relevan dengan tantangan zaman. “Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial harus menjadi sikap hidup,” katanya.

Sementara itu, Dr Julianus Pongtuluran SE M.Ed, Motivator Nasional dari lembaga Motivasi Indonesia, menambahkan bahwa semangat kebangsaan tidak boleh terhenti di ruang seremonial. “Kita perlu menghadirkan Pancasila dalam perilaku sehari-hari, dalam cara kita berinteraksi di media sosial, dalam cara kita menghargai perbedaan,” ujarnya.

Julianus mengingatkan, Banten sebagai provinsi dengan tingkat pertumbuhan digital yang tinggi juga menjadi sasaran empuk penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikalisme berbasis dunia maya. “Media sosial adalah medan baru pertarungan ideologi. Bila tidak punya pondasi kebangsaan yang kuat, generasi muda bisa terseret arus global tanpa arah,” katanya.

Data dan Fakta Tantangan di Banten

Menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika, sepanjang 2023 terdapat lebih dari 11 ribu temuan hoaks di internet, dan sebagian besar menyasar daerah padat pengguna media sosial, termasuk Banten. Di sisi lain, hasil kajian Badan Kesbangpol Banten menunjukkan masih rendahnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan kebangsaan di tingkat desa dan kelurahan.

Situasi ini, menurut Julianus, membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan tokoh masyarakat. “Tidak cukup hanya sosialisasi. Kita perlu gerakan berkelanjutan yang masuk ke ruang digital dan ruang sosial anak muda,” ujarnya.

Penguatan Ketahanan Ideologi dari Banten

Program penguatan ideologi di Banten tidak berhenti pada sosialisasi. Pemerintah provinsi telah menyiapkan rencana tindak lanjut berupa pelatihan kader kebangsaan dan pengembangan konten digital bertema Pancasila yang akan melibatkan sekolah, kampus, dan organisasi kepemudaan.

“Banten harus menjadi contoh provinsi yang kuat secara ideologi dan terbuka secara teknologi,” ujar Kabid Bina Ideologi Kesbangpol Provinsi Banten. “Kami ingin setiap kegiatan ini melahirkan kader-kader muda yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga berkarakter Pancasila.”

Selain pembekalan nilai-nilai kebangsaan, kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aparat keamanan dan tokoh agama untuk ikut memperkuat ketahanan ideologis masyarakat. Kapolsek Ciruas dan Danramil Ciruas menegaskan komitmen mereka mendukung inisiatif Kesbangpol. “Kami siap bersinergi menjaga keutuhan bangsa, mulai dari lingkungan terkecil,” kata Kapolsek.

Refleksi dan Harapan

Kegiatan ini menjadi simbol bahwa di tengah derasnya globalisasi digital, Provinsi Banten tidak tinggal diam. Melalui berbagai program kebangsaan, Banten berupaya menjaga jati diri bangsa agar tidak larut dalam arus budaya global.

Bagi pemerintah daerah, memperkuat wawasan kebangsaan bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga bagian dari investasi moral untuk masa depan. Karena di tangan generasi muda Banten yang melek teknologi namun tetap berjiwa Pancasila terletak harapan tegaknya bangsa di masa depan.

Seperti diungkap Julianus Pongtuluran, “Banten adalah barometer. Jika generasi mudanya kuat secara ideologi, Indonesia akan tetap tegak di tengah badai globalisasi.” (Adv)