Oleh: Timan
“Di tengah semarak perayaan HUT RI ke-79, Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Banten menghadirkan nuansa kebersamaan yang kental dengan kearifan local”
Di sebuah pagi yang tenang di Kota Serang, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya dengan lembut, sekelompok wartawan yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Provinsi Banten berkumpul di gedung Aspirasi DPRD Banten.

Hari itu, Jum’at, 16 Agustus, bukanlah hari biasa. Ini adalah hari di mana semangat kemerdekaan begitu terasa di setiap sudut kota, dan mereka, para pencerita bangsa, berinisiatif untuk merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-79 dengan cara yang berbeda, penuh makna dan kearifan lokal.
Di bawah naungan pohon-pohon yang rindang, acara dimulai dengan sederhana namun khidmat. Tumpeng yang diletakkan di tengah, dihias dengan cantik, menjadi pusat perhatian. Di hadapan para hadirin, Ketua Pokja Wartawan Banten, Hasuri, SH, dengan penuh semangat menyampaikan pesan yang menggetarkan hati. “Kemerdekaan ini harus terus kita jaga dan maknai dengan tindakan nyata,” katanya.

Kalimat itu bukan sekadar kata-kata; ia mengandung pesan yang mendalam tentang pentingnya persatuan, kebersamaan, dan saling berbagi.
Potongan pertama tumpeng itu diambil dengan hati-hati, diiringi doa dan harapan. Harapan agar bangsa ini terus maju, merdeka, dan sejahtera. Potongan tumpeng itu kemudian dibagikan, menyimbolkan semangat berbagi yang tak pernah padam. Dalam momen itu, ada rasa syukur yang tak terucapkan, namun terasa di udara.

Setelah potong tumpeng, acara berlanjut dengan kegiatan yang mengajak masyarakat sekitar untuk turut merayakan. Di Kawasan Lampu Merah Pal Lima, bendera merah putih dibagikan kepada para pengguna jalan. Senyum dan sorak gembira mewarnai wajah-wajah mereka yang menerima bendera itu.

Ada kebanggaan yang tersirat, rasa memiliki yang kuat terhadap negeri ini. “Ini adalah simbol kebanggaan kita, semangat nasionalisme yang harus terus kita jaga,” ujar salah satu anggota Pokja dengan mata berbinar.
Namun, perayaan itu belum selesai. Puncak acara menampilkan seni tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya Banten seperti Debus. Diiringi alunan musik yang menggetarkan, para pendekar lokal tampil dengan atraksi yang memukau.

Dengan tangan kosong, mereka memperlihatkan kekuatan dan ketahanan tubuh yang luar biasa. Masyarakat yang hadir menyaksikan dengan napas tertahan, terpukau oleh keberanian dan keahlian para pendekar. Atraksi Debus bukan hanya sekadar hiburan; ia adalah simbol kekuatan dan ketangguhan, cerminan dari semangat rakyat Banten yang tak pernah menyerah.
Di balik riuh rendahnya acara, ada kebersamaan yang terjalin erat di antara para wartawan. Mereka tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah yang sedang mereka tulis.

Melalui kegiatan ini, Pokja Wartawan Banten ingin menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita memaknainya di masa kini, dengan menjaga tradisi dan kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

