Senja di Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, selalu menyimpan cerita tentang perjuangan dan harapan. Di tengah bentangan lahan seluas satu hektar, hamparan tanaman singkong tumbuh subur, menjadi saksi perubahan yang dilakukan sekelompok perempuan tangguh melalui Program Kampung Iklim (PROKLIM).
Di bawah binaan Pertamina EP Field Lirik, Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan perempuan dan peningkatan ekonomi keluarga. Lahan yang dahulu kurang produktif kini menjadi sumber penghidupan, sementara singkong yang sebelumnya dijual mentah mulai diolah menjadi keripik bernilai ekonomi lebih tinggi.
Dari Lahan Marginal Menjadi Sumber Kehidupan
Perjalanan KWT Melati bermula dari keinginan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. Lahan yang sebelumnya kurang produktif menghadirkan tantangan tersendiri, terlebih ketika musim kemarau tiba dan ketersediaan air semakin terbatas.

Namun, keterbatasan tidak menyurutkan semangat para anggota kelompok sebanyak 13 orang. Dengan bergotong royong, mereka mengolah tanah, memilih bibit singkong yang sesuai dengan kondisi lahan, serta menerapkan cara budidaya ramah lingkungan. Pengolahan lahan dilakukan tanpa pembakaran untuk mengurangi risiko kebakaran dan pencemaran udara.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penerapan PROKLIM, program yang mendorong masyarakat berperan aktif dalam menghadapi perubahan iklim melalui aksi adaptasi dan mitigasi di tingkat lokal.
Bagi KWT Melati, menjaga lingkungan bukan sekadar kegiatan menanam. Mereka belajar memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mengelola lahan secara bijaksana, serta mengembangkan kebiasaan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Perempuan Bergerak, Aksi Iklim Bertumbuh
Dalam pengelolaan kebun, anggota KWT Melati berupaya menerapkan praktik ramah lingkungan, antara lain melalui pemanfaatan sampah organik rumah tangga sebagai bahan kompos serta upaya menjaga kelembapan dan kesuburan tanah. Pembuatan rorak dan biopori juga menjadi bagian dari upaya mengelola air hujan agar dapat membantu menjaga ketersediaan air di lahan.
Praktik tersebut penting untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Tanah yang terjaga kesuburannya dapat mendukung pertumbuhan tanaman, sementara pengelolaan air membantu mengurangi dampak keterbatasan air ketika kemarau.
Tanaman singkong yang tumbuh di lahan tersebut juga berkontribusi terhadap penyerapan karbon selama pertumbuhannya. Meski demikian, manfaat iklim yang lebih luas tetap bergantung pada keseluruhan praktik pengelolaan lahan, penggunaan energi, dan proses produksi.
Melalui pendampingan Pertamina EP Field Lirik, kegiatan KWT Melati menunjukkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga penggerak perubahan yang menghubungkan ketahanan pangan, kepedulian lingkungan, dan penguatan ekonomi keluarga.
Dari Singkong Menjadi Keripik Bernilai Ekonomi
Perubahan tidak berhenti di kebun. Singkong yang dipanen kemudian diolah menjadi keripik ubi melalui usaha rumahan KWT Melati. Di tempat produksi sederhana, para anggota bekerja bersama mengupas, mengiris, menggoreng, memberi aneka rasa, hingga mengemas produk siap dipasarkan.
Keripik ubi dengan merek UBI–IBU, singkatan dari “Ubi–Ibu” atau Keripik Ubi Buatan Ibu, menjadi simbol kreativitas perempuan dalam menciptakan nilai tambah dari hasil pertanian.
Singkong yang sebelumnya dijual sekitar Rp2.000 per kilogram dapat memiliki nilai jual dijual sekitar Rp14.400 untuk kemasan ukuran 100 gram setara hingga Rp140.000 kg setelah diolah menjadi keripik, berdasarkan gambaran nilai yang disampaikan dalam kegiatan kelompok. Nilai tersebut merupakan potensi hasil olahan, bukan keuntungan bersih, karena masih terdapat biaya bahan tambahan, minyak, kemasan, tenaga kerja, dan pemasaran.
Produk KWT Melati dipasarkan di lingkungan lokal dan dikembangkan melalui penjualan daring. Pengolahan hasil panen ini membuka peluang pendapatan tambahan, memperluas pasar, serta mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah.
Pemanfaatan singkong secara optimal juga mendukung ketahanan pangan dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan produksi dapat terus dikembangkan tanpa mengabaikan aspek kebersihan, kualitas produk, dan efisiensi penggunaan sumber daya.
Sukacita, Tantangan, dan Semangat Kebersamaan
Ketua KWT Melati, Sri Wiji Rahayuningsih, yang akrab disapa Rahayu, mengungkapkan bahwa perjalanan kelompoknya memiliki suka dan duka. Baginya, kekompakan para anggota merupakan salah satu kebahagiaan terbesar dalam menjalankan kegiatan bersama.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terus memberikan dukungan, termasuk kepala desa.
“Tanpa kerja sama dan dukungan, kami tidak akan berhasil seperti sekarang. Saya sangat mengapresiasi kekompakan ibu-ibu anggota KWT Melati dan dukungan Ibu Kepala Desa. Kebersamaan inilah yang membuat kami terus bersemangat,” ungkap Rahayu.
Meski demikian, perjuangan mereka tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar muncul saat mengolah lahan pada musim kemarau, ketika air sulit diperoleh. Kondisi tersebut menuntut kesabaran, kerja sama, dan upaya mencari cara agar tanaman tetap dapat tumbuh dengan baik.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses panjang, pendampingan berkelanjutan, dan keterlibatan berbagai pihak. Dukungan pemerintah desa, perusahaan, serta partisipasi aktif anggota kelompok menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan program.
Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Kolaborasi Pertamina EP Field Lirik dan KWT Melati memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari inisiatif sederhana yang tumbuh di tengah masyarakat. Melalui PROKLIM, kegiatan pertanian ramah lingkungan dipadukan dengan pengolahan hasil panen dan penguatan peran perempuan dalam ekonomi keluarga.

Dampak yang diharapkan tidak hanya berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga tumbuhnya kesadaran menjaga lingkungan, pemanfaatan sampah organik, pengelolaan air, dan penguatan ketahanan pangan. Keberlanjutan manfaat tersebut perlu dijaga melalui pemantauan, peningkatan keterampilan, pengembangan pasar, serta pengelolaan sumber daya yang konsisten.
Ketika senja perlahan tenggelam di Desa Lambang Sari V, aktivitas di rumah produksi KWT Melati masih berlanjut. Tangan-tangan perempuan itu mengemas keripik untuk memenuhi pesanan, sementara harapan akan masa depan yang lebih baik terus tumbuh.
Dari satu hektar lahan singkong dan usaha keripik rumahan, KWT Melati menyampaikan pesan penting: perubahan besar tidak selalu berawal dari teknologi yang rumit. Terkadang, perubahan dimulai dari keberanian mengolah lahan, kesediaan bekerja bersama, dan tekad menjaga alam sekaligus menghidupi keluarga.
Di tanah Pertamina EP Field Lirik, perempuan tangguh membuktikan bahwa ketika pemberdayaan ekonomi bertemu kepedulian lingkungan, satu kebun singkong dapat menjadi awal perjalanan menuju masyarakat yang lebih mandiri, tangguh menghadapi perubahan iklim, dan berkelanjutan.
Karya Penulis : Erizal

