PELALAWAN – Javanewsonline.co.id | Grup Royal Golden Eagle (RGE), konglomerasi berbasis sumber daya alam berkelanjutan milik pengusaha Sukanto Tanoto, resmi mengakuisisi Vinda International Holdings Limited, produsen produk tisu dan kebersihan asal Hong Kong. Namun, informasi mengenai lokasi fasilitas produksi di Indonesia, khususnya di Pelalawan, Riau, belum diungkap secara rinci.
Dari situs resmi RGE, akuisisi ini memperluas portofolio bisnis grup ke sektor produk konsumen, memperkuat lini usaha di bidang kebersihan dan perawatan pribadi. Vinda memproduksi berbagai merek ternama seperti Tempo, TENA, Libresse, hingga Drypers, dan dikenal menerapkan prinsip keberlanjutan dalam seluruh operasinya.
“Vinda mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam bisnisnya, termasuk penggunaan rantai pasokan rendah karbon serta sumber serat dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab,” tulis RGE dalam laman resminya, dikutip Senin (26/5/2025).
RGE saat ini tercatat memiliki aset lebih dari 35 miliar dolar AS dengan lebih dari 80.000 karyawan yang tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia, Tiongkok, Brasil, Spanyol, dan Kanada. Akuisisi terhadap Vinda menambah daftar panjang anak perusahaan RGE, seperti APRIL Group, Apical, Sateri, Bracell, dan Asia Pacific Rayon.
Namun, ketika dikonfirmasi mengenai kemungkinan lokasi pabrik Vinda atau lini produksinya di bawah naungan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pelalawan, Eko Novita, mengaku belum memiliki informasi pasti. “Kalau nama pabriknya, kami belum tahu secara persis,” kata Eko singkat.
Sementara itu, Humas PT RAPP Budi Firmansyah juga enggan memberikan penjelasan detail saat dihubungi. Ia hanya menyarankan awak media untuk merujuk ke situs resmi RGE, tanpa merinci apakah ada operasional langsung Vinda di lingkungan kerja PT RAPP.
Akuisisi ini memicu spekulasi soal perluasan operasional RGE di sektor hilir berbasis pulp dan tisu, terutama mengingat Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu basis utama industri bubur kertas nasional. Namun, hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait dampak langsung akuisisi terhadap investasi atau kegiatan produksi di daerah tersebut.
Langkah ekspansi ini juga menunjukkan arah strategi RGE untuk masuk lebih dalam ke sektor konsumer, setelah sebelumnya fokus pada bahan baku industri seperti pulp, minyak sawit, dan energi. (Erizal)

