Magetan – Suasana malam di Kelurahan Mangge, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026), berlangsung meriah. Ratusan warga memadati kawasan depan Pasar Candi untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi puncak rangkaian tradisi bersih desa.

Kegiatan tahunan tersebut digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan perlindungan bagi warga serta lingkungan desa.

Pagelaran wayang kulit dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dengan lakon “Kresna Duta” yang dibawakan dalang Ki Wardoyo Joko Pandoyo dari Klaten, Jawa Tengah.

Lakon Kresna Duta mengisahkan misi perdamaian Prabu Kresna yang datang ke Hastinapura sebagai utusan terakhir Pandawa sebelum pecahnya perang besar Baratayuda. Setelah menyelesaikan masa pembuangan selama 13 tahun dan masa penyamaran selama satu tahun, Pandawa menuntut pengembalian hak atas kerajaan Amarta dan Hastinapura sesuai perjanjian.

Untuk menghindari peperangan, Pandawa kemudian mengutus Prabu Kresna sebagai duta pamungkas guna menempuh jalan diplomasi dan perdamaian dengan pihak Kurawa.

Lakon tersebut sarat dengan pesan moral tentang perjuangan mempertahankan perdamaian, diplomasi yang menjunjung tinggi keadilan, serta gambaran kekuasaan Tuhan dalam menghadapi kesewenang-wenangan dan angkara murka.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Area sekitar Pasar Candi mulai dipadati warga yang membawa tikar, kursi, serta aneka jajanan untuk menemani mereka menyaksikan pertunjukan hingga dini hari. Tidak hanya warga Mangge, masyarakat dari sejumlah desa tetangga juga turut hadir.

“Bersih desa ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga cara kami melestarikan budaya sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga,” ujar Camat Barat, Ari Budi Astuti.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut. Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kabupaten Magetan, Yok Sujarwadi, S.STP., hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Magetan. Ia didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca) Barat, perangkat kelurahan, serta tokoh masyarakat setempat.

Menurut Ari Budi Astuti, tradisi bersih desa memiliki arti penting bagi kehidupan sosial masyarakat. Selain menjadi bentuk rasa syukur, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan menjaga harmoni sosial.

“Tradisi ini adalah aset budaya yang harus kita lestarikan. Selain sebagai wujud syukur, juga menjadi sarana menjaga harmoni sosial,” katanya.

Suasana semakin semarak ketika iringan gamelan mulai mengalun. Anak-anak hingga orang tua tampak larut mengikuti jalannya cerita yang dibawakan dalang bersama para sinden. Tepuk tangan penonton terdengar setiap kali adegan penting dalam lakon berlangsung.

Bagi masyarakat Mangge, bersih desa juga memiliki dimensi spiritual. Doa bersama yang menjadi bagian dari tradisi tersebut diyakini sebagai ikhtiar untuk memohon keselamatan, menolak bala, serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

“Kami berharap desa selalu diberikan keberkahan, hasil panen melimpah, dan masyarakat hidup rukun,” ujar Wiyanto (65), salah seorang warga.

Selain sebagai bentuk pelestarian tradisi, pagelaran wayang kulit tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan mempertahankan kekayaan budaya Jawa di Kabupaten Magetan. Di tengah perkembangan hiburan modern, wayang kulit tetap menjadi salah satu seni pertunjukan tradisional yang memiliki nilai budaya dan filosofi kuat.

Masyarakat pun tetap bertahan hingga menjelang subuh untuk mengikuti jalannya pertunjukan. Suasana semakin meriah ketika memasuki adegan-adegan penting dalam cerita, termasuk saat Sengkuni akhirnya tumbang.

Pagelaran wayang kulit kemudian ditutup dengan doa bersama yang menandai berakhirnya rangkaian kegiatan bersih desa Kalurahan Mangge tahun ini.

(Rendra)