Di atas mimbar Masjid Darul Muthmainnah, suara itu tak hanya menyampaikan ayat dan hadis, tetapi juga menyuarakan pesan adat yang mendalam. Bukan seorang penceramah biasa, khatib Jumat siang itu adalah seorang perwira polisi berpangkat komisaris yang juga menyandang gelar datuk adat Minangkabau
Oleh: Syamsurijon
Suasana ibadah Jumat di Masjid Darul Muthmainnah, Perumnas Painan Timur, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pada Jumat (6/10/2026) terasa berbeda dan mengesan.

Wakapolres Kompol H.Syafrizen,SH Datuk
Rang Batuah di Masjid Darul Muthmahinnah
Perumnas Painan Timur Pessel
Di atas mimbar, seorang perwira menengah kepolisian berdiri menunaikan tugas sebagai khatib. Ia adalah Wakapolres Pesisir Selatan, Kompol Syafrizen, S.H., yang juga menyandang gelar adat Minangkabau, Datuk Rang Batuah.
Kehadiran sosok pimpinan kepolisian berbalut identitas adat di atas mimbar tempat ibadah menjadi cerminan nyata dari pendekatan humanis Polri. Melalui program “Jumat Keliling”, kepolisian tidak lagi sekadar hadir sebagai penegak hukum yang kaku, melainkan merangkul warga lewat bahasa agama dan kearifan lokal.
Mengangkat tema khutbah Berdayakan Tungku Tigo Sajarangan, Kamtibmas Tanggung Jawab Bersama, Kompol Syafrizen memadukan nilai kebangsaan, norma hukum, dan doktrin religius.
Di hadapan ratusan jamaah, ia mengingatkan bahwa ketenteraman daerah bukanlah tugas eksklusif aparat semata, melainkan kewajiban moral seluruh elemen masyarakat sebagaimana diajarkan dalam Surah Al-Maidah ayat 2.
“Menciptakan lingkungan yang aman bukan hanya tugas kepolisian, bukan hanya tugas pemerintah, dan bukan hanya tugas tokoh masyarakat, melainkan kewajiban moral seluruh elemen,” tegasnya.
Menghidupkan Benteng Tradisi
Di tengah ancaman modernitas seperti maraknya bahaya narkoba, penyakit masyarakat, hingga maraknya disinformasi di media sosial, khutbah tersebut menawarkan formula solutif berbasis tradisi Minangkabau: Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin.
Tiga pilar pertahanan sosial ini dinilai memiliki peran vital yang saling melengkapi:
- Niniak Mamak: Pemimpin adat yang membimbing anak kemenakan agar tidak terperosok dalam perbuatan melanggar hukum.
- Alim Ulama: Penjaga benteng moral dan akhlak yang menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat.
- Cadiak Pandai: Unsur cendekiawan dan pemerintah yang menghadirkan gagasan solutif demi kemajuan serta ketertiban lingkungan.
Syafrizen menekankan, apabila ketiga unsur tradisional ini berkolaborasi secara harmonis, kemitraan antara polisi dan warga akan terbangun secara alami dan kokoh.
Sinergi Nyata Polisi dan Warga
Program Jumat Keliling Polres Pesisir Selatan membuktikan bahwa strategi pencegahan kejahatan terbaik berawal dari komunikasi yang hangat. Warga diajak aktif menggalakkan siskamling, mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan konflik, serta menjalin koordinasi intensif dengan petugas Bhabinkamtibmas.
Khutbah yang menyejukkan itu diakhiri dengan doa keselamatan untuk nagari dan ditutup lewat bait pantun bernuansa nasihat lokal:
Ke Painan membeli kelapa,Singgah sebentar di Batang Kapas.Niniak mamak, ulama, dan cadiak pandai bersatu bersama,Kamtibmas terjaga, nagari aman, masyarakat pun puas.

