Oleh: Zulkarnain

Pemilu yang baru saja berlangsung pada 14 Februari 2024 memberikan kejutan besar dengan kemenangan pasangan Prabowo-Gibran Raka Buming Raka yang memimpin dengan perolehan suara mencapai 57,46 persen. Keberhasilan ini seolah-olah mempecundangi keangkuhan Ketua Umum PDIP, Megawati.

Meski belum ada bukti konkret terkait adanya kecurangan, posisi pasangan Prabowo-Gibran yang mendominasi, dengan Anies-Muhaimin Iskandar di posisi kedua, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD di posisi ketiga, menciptakan gejolak politik yang menghebohkan.

Namun, yang lebih menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Megawati, yang selama ini dianggap memiliki kendali kuat atas partainya, harus merasakan kegagalan tersebut. Kegagalan ini tidak terlepas dari manuver berani Presiden Jokowi yang sejak lama diusung oleh PDIP.

Jokowi, yang sejak awal karir politiknya telah dinaungi oleh PDIP, terbilang kontroversial ketika memutuskan untuk meninggalkan partai tersebut. Apalagi, keberaniannya untuk mendukung sepenuhnya Prabowo sebagai calon presiden 2024 menjadi pukulan telak, terutama karena pada Pemilu 2019, Prabowo menjadi lawan Jokowi dan memenangkan pertarungan.

Langkah berani Jokowi tak hanya terhenti di situ. Ia memilih mengajukan anaknya, Gibran Raka Buming Raka, sebagai calon Wakil Presiden. Meski langkah ini mendapat kontroversi, terutama terkait putusan Mahkamah Konstitusi mengenai usia Gibran yang belum mencapai 40 tahun, Jokowi tetap kukuh dan tak terpengaruh oleh kritikan tersebut.

Banyak yang menduga bahwa keputusan Jokowi ini merupakan bentuk balas dendam atas perlakuan Megawati yang dianggap merendahkan. Megawati sering menyebut Jokowi sebagai “Petugas Partai” dan meremehkan peran Jokowi dengan kata-kata tajam, seperti “Jokowi ini tanpa saya dan PDIP, bukan siapa-siapa.”

Meski Jokowi meninggalkan PDIP, keberaniannya tersebut memberikan dampak besar dalam dinamika politik tanah air. Bahkan, di dekat Megawati, Jokowi terlihat kehilangan sebagian wibawa, meski posisinya sebagai presiden masih kuat.

Pemilu 2024 menjadi saksi bisu dari keputusan-keputusan politik yang mendebarkan, memicu spekulasi, dan mengubah dinamika kekuatan politik di tanah air.

Pemilu 2024 telah meninggalkan jejak politik yang mendalam dengan keberhasilan pasangan Prabowo-Gibran Raka Buming Raka menempati posisi puncak. Namun, yang lebih menarik adalah perjalanan politik Presiden Jokowi yang tak terduga, meninggalkan PDIP dan berkoalisi dengan Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, dan PSI.

Sebelumnya, Megawati mengancam keras anggota PDIP untuk tidak bermain dua kaki, namun ancaman tersebut tak dihiraukan oleh Jokowi. Rencana Jokowi untuk meninggalkan partai yang membesarkannya terlihat terstruktur, bahkan sebelum bergabung dengan koalisi Jokowi, PSI telah mengumumkan dukungannya terhadap Ganjar Pranowo.

Perubahan sikap Jokowi yang awalnya mendukung Ganjar Pranowo, yang direkomendasikan oleh Megawati, menjadi mendukung Prabowo, mengejutkan banyak pihak. Bukan hanya Jokowi, sejumlah pejabat PDIP juga ikut pindah mendukung Prabowo, meninggalkan PDIP.

Pertanyaannya, apakah Megawati mampu menindak Jokowi dan mereka yang meninggalkan PDIP? Meskipun Megawati mengancam akan menindak kader yang bermain dua kaki, nyatanya hingga Pemilu berakhir, tindakan tersebut hanya berupa gertakan belaka. Pasangan yang didukung Megawati, Ganjar Pranowo, hanya mampu menempati urutan ketiga di bawah pasangan 01.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi Megawati untuk tidak terlalu sombong dengan kebesaran partainya. Ucapan-ucapan yang menyakiti hati masyarakat, seperti pernyataan bahwa ‘PDIP tidak butuh suara umat Islam’, serta kesombongan bahwa PDIP punya gerbong yang panjang, kini tampak kurang relevan di tengah kekalahan di Jawa Tengah dan Bali, kandang banteng sendiri.

Sementara kita menunggu hasil akhir perolehan suara dari ketiga paslon, perhatian juga tertuju pada dugaan kecurangan yang mencuat terutama pada paslon 02, yang dinilai mendapatkan suara fantastis.

Meskipun demikian, pernyataan Jokowi sebelum Pemilu, bahwa “Saya dipilih oleh rakyat, bukan oleh partai,” tetap menggema. Pidato tersebut menjadi sorotan karena menyindir Megawati, dan mencerminkan pergeseran dalam dinamika politik yang lebih mementingkan dukungan rakyat daripada kepatuhan terhadap partai.

Dalam lanskap politik yang terus berubah, pertanyaan mengenai masa depan PDIP dan Megawati menjadi semakin relevan, dan hasil Pemilu 2024 menjadi cermin bagi introspeksi yang mendalam.

Penulis adalah Wartawan Progresif Jaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.