Oleh: Syamsurijon

“Di bawah terik matahari Dermaga Tuapeijat, pundak-pundak kokoh itu menopang karung dan beban kehidupan. Namun, di balik kerasnya deru ombak dan beratnya muatan, ada kehangatan sederhana yang mencairkan lelah: secangkir kopi, duduk bersila, dan sapaan akrab dari seorang perwira kepolisian.”

Ketika Seragam dan Keringat Bertemu dalam Satu Meja

Pukul 10.25 WIB, Rabu (28/10/2026), suasana di Penginapan Citra, kawasan Dermaga Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, terasa berbeda dari hari-hari biasa. Tidak ada ketegangan, tidak ada jarak. Yang ada hanyalah derai tawa ringan dan percakapan akrab antara puluhan pekerja kasar dengan para penjaga keamanan negeri.

Sebanyak 21 orang buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Tuapeijat duduk berdampingan dengan Wakapolres Kepulauan Mentawai, Kompol Irwandi Idham, S.H., M.H., bersama Kasat Intelkam IPTU Defit Irawan beserta jajarannya. Mereka datang bukan untuk apel atau pemeriksaan, melainkan untuk memenuhi undangan dalam program Quick Wins Kapolri bertajuk “Kumpul Bersama Masyarakat”.

Bagi para buruh pelabuhan, hari itu menjadi momen langka. Tangan-tangan yang biasanya berurat kencang mengangkat barang berat, kini bersalaman erat dengan aparat penegak hukum. Sebuah pemandangan yang menyadarkan kita bahwa di balik kerasnya perjuangan hidup di pulau terluar, sentuhan kemanusiaan selalu mampu meruntuhkan sekat-sekat sosial.

Suara dari Balik Karung Muatan: Aspirasi yang Menggetarkan

Dalam suasana dialog yang mengalir cair, para buruh tidak menyia-siakan kesempatan untuk mencurahkan isi hati. Bukan sekadar mengeluh, mereka menyampaikan harapan-harapan kecil yang sarat makna demi keamanan keluarga dan lingkungan kerja mereka.

“Kalau bisa, Komandan, kegiatan ngobrol seperti ini jangan cuma sekali ini saja. Kalau boleh, seminggu sekali kami diajak ngopi bareng begini, supaya kami punya tempat bercerita,” ujar salah seorang perwakilan buruh dengan nada lugu namun penuh harap.

Selain itu, mereka juga menitipkan pesan agar patroli kepolisian di sekitar Dermaga Tuapeijat lebih diintensifkan, khususnya saat kapal-kapal penumpang merapat atau bertolak. Bagi mereka, kehadiran polisi berseragam di tengah kesibukan dermaga bukan sekadar pengaman, melainkan simbol ketenangan bahwa keluarga di rumah menanti mereka pulang dalam keadaan selamat.

Mendengar aspirasi tersebut, Kompol Irwandi Idham mendengarkan dengan seksama. Tidak ada kesan menggurui. Beliau memposisikan diri bukan sekadar sebagai pimpinan kepolisian di daerah itu, tetapi sebagai pendengar yang tulus bagi saudara-saudaranya sesama anak bangsa di tanah Mentawai.

Pesan Kemanusiaan: Menjaga Keluarga dari Bahaya Modern

Di tengah perbincangan yang hangat, pesan-pesan penting disampaikan bukan dengan nada ancaman, melainkan sebagai bentuk kepedulian seorang kakak kepada adiknya.

Kasat Intelkam IPTU Defit Irawan menyentuh sisi paling rentan dari kehidupan pekerja harian: jerat pinjaman online ilegal dan rayuan maut judi daring (slot). Dengan bahasa yang membumi, ia mengingatkan betapa mudahnya jeratan digital merusak keharmonisan rumah tangga yang telah dibangun dengan keringat jujur bertahun-tahun.

Begitu pula dengan pesan Wakapolres mengenai bahaya narkoba dan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama di bumi Mentawai yang majemuk. Di pulau yang damai ini, keberagaman suku dan keyakinan adalah mahkota yang harus dijaga bersama dari perpecahan.

Penutup: Dari Dermaga, Cinta untuk Mentawai

Pertemuan di Dermaga Tuapeijat siang itu ditutup dengan senyuman dan jabat tangan yang erat. Para buruh pulang membawa rasa lega di dada, sementara para perwira kepolisian membawa pulang catatan penting tentang arti sejati dari melayani masyarakat.

Kisah di Tuapeijat mengingatkan kita bahwa keamanan yang kokoh tidak lahir dari pos-pos penjagaan yang dingin, melainkan dari kedekatan hati. Ketika aparat turun ke bawah, merangkul mereka yang lelah di pelabuhan, di situlah wajah negara benar-benar hadir: hangat, mengayomi, dan menyentuh jiwa.