AMBON – Javanewsonline.co.id | Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH.LLM., dalam pidato perdana yang disampaikan pada sidang paripurna istimewa di DPRD Provinsi Maluku, Rabu (5/3/2025), menegaskan pentingnya menjaga semangat persaudaraan dan ikatan yang telah terjalin sejak zaman leluhur untuk membangun Maluku yang lebih baik.
Lewerissa, yang dilantik sebagai Gubernur Maluku pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, mengingatkan akan pentingnya warisan budaya dan semangat persatuan yang telah dibangun oleh para leluhur Maluku, yang dikenal dengan ikatan Ulisiwa-Ulilima, Patasiwa-Patalima, dan Salam-Sarane. Menurutnya, ikatan tersebut menjadi landasan yang sangat kuat untuk memajukan Maluku.
“Ulisiwa tidak lengkap tanpa Ulilima, Patasiwa tidak lengkap tanpa Patalima. Dalam konteks yang lebih luas, Salam tidaklah lengkap tanpa Sarane, dan sebaliknya,” ujar Lewerissa.
Dalam pidatonya, Hendrik juga menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun negeri Maluku, sebuah tempat yang kaya akan sumber daya alam dan budaya yang luar biasa. Ia dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath, yang juga berasal dari Maluku, menegaskan bahwa mereka hadir bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai anak negeri yang berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku.
Lewerissa melanjutkan dengan menjelaskan kekayaan alam Maluku yang sudah terkenal sejak ribuan tahun lalu, terutama cengkeh dan pala yang menjadi primadona perdagangan dunia sejak zaman sebelum Masehi. Meskipun demikian, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap ketertinggalan ekonomi yang masih melanda Maluku hingga saat ini, meski wilayah ini kaya akan sumber daya alam dan manusia.
“Kenapa Maluku yang kaya ini masih terjerembab dalam keterbelakangan dan kemiskinan? Itu menjadi pertanyaan besar yang terus ada dalam benak saya,” ujar Hendrik.
Dalam pidatonya, Hendrik juga menyebutkan bahwa Maluku memiliki sejarah panjang perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia, dengan banyak tokoh besar dari Maluku yang berperan penting, seperti Thomas Matulessy, Christina Martha Tiahahu, dan tokoh-tokoh lainnya yang berjuang melawan penjajah.
Melalui visi dan misi Sapta Cipta Lawamena, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath berkomitmen untuk membangun Maluku dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong. Mereka berdua bertekad untuk membawa perubahan nyata bagi masyarakat Maluku dengan mengedepankan keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan.
“Potong dikuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, sagu salempeng dibagi dua – mari kita bangun Maluku yang lebih baik,” tambahnya.
Hendrik Lewerissa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan bekerja keras demi kemajuan Maluku, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai landasan utama dalam setiap langkah pembangunan. (Ritta)

