Metro Metro — Javanewsonline.co.id| Dalam menghadapi ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kerap meningkat saat musim hujan, Dinas Kesehatan Kota Metro mengambil langkah strategis melalui dua program unggulan: Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemberantasan Jentik Berkala (PJB).

Kedua program ini dijalankan sebagai upaya menyeluruh untuk menekan populasi nyamuk Aedes aegypti — vektor utama penyebaran DBD — melalui pendekatan preventif dan edukatif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Membangun Kesadaran Kolektif Lewat PSN

“PSN bukan hanya agenda pemerintah. Ini adalah gerakan kolektif yang membutuhkan keterlibatan seluruh warga,” tegas Dr. Eko Hendro Saputra, ST., M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro.

PSN dilakukan dengan membersihkan lingkungan dari potensi sarang nyamuk, seperti genangan air di bak mandi, selokan, pot bunga, dan barang bekas yang dapat menampung air hujan. Masyarakat diedukasi untuk aktif melakukan 3M Plus: Menguras, Menutup, dan Mendaur Ulang, ditambah tindakan pencegahan lainnya.

PJB: Intervensi Rutin dan Terarah

Melengkapi PSN, program Pemberantasan Jentik Berkala (PJB) difokuskan pada deteksi dan eliminasi dini jentik nyamuk. PJB dilaksanakan secara terjadwal di wilayah berisiko tinggi, dengan dukungan tenaga kesehatan dan kader masyarakat.

“Dengan membasmi jentik sebelum menjadi nyamuk dewasa, kita mengintervensi penyebaran DBD dari hulu,” ujar Dr. Eko.

Dinas Kesehatan telah mengagendakan pelaksanaan serentak PSN dan PJB mulai 30 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025, dengan melibatkan lintas sektor: Puskesmas, tokoh masyarakat, organisasi pemuda, dan warga.

Peran Puskesmas dan Kolaborasi Lapangan

Salah satu tokoh lapangan, Rochayani, Kepala Puskesmas Ganjar Agung, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara fasilitas kesehatan dan masyarakat.

“Tanpa partisipasi aktif warga, upaya pencegahan DBD tidak akan berhasil. Program ini adalah milik bersama,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga edukatif. Dinkes Kota Metro menggandeng berbagai pihak untuk menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan, mengelola sampah, serta mengenali gejala awal DBD secara tepat.

Fogging Bukan Solusi Utama

Meski penyemprotan fogging tetap dilakukan di area tertentu, Dinkes menekankan bahwa fogging hanyalah solusi tambahan sementara. Fokus utama tetap pada pemberantasan sumber penyakit, bukan hanya membunuh nyamuk dewasa.

“Yang utama adalah PSN dan PJB. Fogging hanya efektif jika sarang dan jentik nyamuk sudah dibersihkan lebih dulu,” kata Dr. Eko.

Visi Kota Sehat dan Bebas DBD

Melalui pendekatan terpadu ini, Dinas Kesehatan Kota Metro ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa DBD bukan takdir, melainkan penyakit yang bisa dicegah bersama. Kesuksesan program ini terletak pada sinergi antara pemerintah dan warga.

“Kami ingin menjadikan Metro sebagai kota yang lebih sehat, bersih, dan bebas DBD. Ini bukan sekadar program, ini gerakan perubahan,” pungkas Dr. Eko. (Adv)