Oleh: Timan
Ban motor berputar sia-sia di kubangan lumpur pekat. Hampir dua dekade, warga Desa Sekong, Pandeglang, bertaruh keselamatan melintasi jalan utama yang rusak parah.
Deru mesin sepeda motor meraung keras, memecah keheningan pagi di Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Ban belakang kendaraan itu berputar kencang di tempat, tertanam di dalam kubangan lumpur kecokelatan. Sang pengendara, melipat celananya tinggi-tinggi, bersusah payah mendorong kendaraannya agar bisa keluar dari “jebakan” jalan utama desa.
Pemandangan memprihatinkan ini bukanlah peristiwa langka, melainkan rutinitas harian yang harus ditelan pahit oleh warga Desa Sekong selama hampir 20 tahun terakhir.
Jalan sepanjang kurang lebih tiga kilometer yang menghubungkan Kampung Kadu Bale hingga Kampung Cibuntu tersebut kini tak ubahnya selokan kering saat kemarau dan kubangan beracun saat musim hujan. Lubang-lubang besar menganga di sepanjang jalur, menyisakan batu-batu tajam yang siap merusak pelek kendaraan atau menggelincirkan siapa saja yang kurang waspada.
Padahal, ruas ini adalah urat nadi kehidupan. Di atas jalan yang remuk inilah, perekonomian warga digantungkan, mimpi anak-anak sekolah dipertaruhkan, dan keselamatan jiwa diuji setiap hari.
Perekonomian Terhambat, Keselamatan Terancam
Bagi warga lokal, melintasi jalan ini membutuhkan keberanian dan ekstra kesabaran. Rohman (43), salah seorang warga setempat, menceritakan betapa sulitnya bertahan hidup di tengah keterbatasan infrastruktur yang terbengkalai sedemikian lama.
“Warga kesulitan membawa hasil panen ke pengepul. Kendaraan juga jadi cepat rusak. Anak-anak sekolah sering terlambat, bahkan tidak sedikit warga yang terjatuh dari motor akibat tergelincir,” tutur Rohman dengan nada lesu.
Dampak domino dari kerusakan jalan ini merembet ke segala sektor:
- Sektor Pertanian: Biaya angkut hasil bumi melambung tinggi karena pengepul enggan masuk ke area desa, menurunkan nilai jual hasil tani warga.
- Sektor Pendidikan: Anak-anak sekolah kerap tiba dengan pakaian kotor terkena cipratan lumpur, atau bahkan terlambat mengikuti pelajaran.
- Sektor Kesehatan: Akses darurat menuju fasilitas kesehatan menjadi pengalaman menegangkan, terutama bagi ibu hamil atau warga sakit keras.
Menanti Kepastian yang Tak Kunjung Hadir
Pemerintah Desa Sekong bukannya berdiam diri melihat warganya terus berkubang masalah. Kepala Desa Sekong, Amirudin, menegaskan bahwa suara jeritan warga selalu dibawanya ke meja perundingan resmi. Berbagai usulan telah dilayangkan melalui Musyawarah Plan Pembangunan (Musrenbang), mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.
“Pengajuan sudah kami lakukan sejak tahun 2016, tetapi sampai hari ini belum ada realisasi. Kondisinya rusak berat, berlubang, dan licin berlumpur saat hujan turun. Padahal ini jalan utama warga,” tegas Amirudin saat ditemui di kantor desa.
Harapan yang digantungkan sejak delapan tahun lalu itu seolah hanya bermuara pada tumpukan berkas proposal tanpa kepastian realisasi.
kini, warga Desa Sekong tak lagi membutuhkan janji manis. Mereka mendesak Bupati Pandeglang dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk turun langsung merasakan getir yang mereka jalani sehari-hari. Pembangunan jalan yang layak dan permanen bukan sekadar pemenuhan janji politik, melainkan hak paling dasar warga negara demi menggerakkan roda kesejahteraan di pelosok Pandeglang.

