PANDEGLANG  –  Javanewsonline.co.id | Malam jelang Hari Kemerdekaan di Pandeglang terasa khidmat. Di Gedung Pendopo, suasana hening dan penuh kebanggaan menyelimuti prosesi pengukuhan 50 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Pandeglang. Pada Sabtu, 16 Agustus 2025, satu hari sebelum upacara sakral, para pemuda-pemudi terbaik ini resmi dilantik.

Dipimpin langsung oleh Bupati Pandeglang, Dewi Setiani, acara pengukuhan ini disaksikan oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sorot mata bangga terlihat jelas dari wajah para orang tua yang turut hadir, menyaksikan putra-putri mereka berdiri tegap dengan seragam putih-putih.

Bupati Dewi Setiani dalam sambutannya tak bisa menyembunyikan rasa haru. Ia mengucapkan selamat kepada para siswa yang telah terpilih. “Kami ucapkan selamat kepada putra-putri terbaik. Kalian akan melaksanakan tugas mulia untuk mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka Merah Putih di hari sakral yang penuh sejarah,” kata Dewi.

Menurutnya, menjadi anggota Paskibraka bukanlah hal yang mudah. Ini adalah sebuah kehormatan. Dari ribuan siswa di Pandeglang, hanya 50 orang yang berhasil melewati beragam tahapan seleksi ketat dan latihan berat. Mereka adalah cerminan dari disiplin, kerja keras, dan dedikasi. “Kalian merupakan orang-orang terpilih, tidak semua siswa bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Laksanakan tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Bupati.

Alfresa Maesro, Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kabupaten Pandeglang, menjelaskan detail formasi pasukan. Total ada 50 anggota, terdiri dari 25 putra dan 25 putri. Mereka terbagi dalam tiga kelompok pasukan, yakni pasukan 8, pasukan 17, dan pasukan 45. Pasukan 45, yang bertugas sebagai pengawal, berasal dari Yonif 320 Badak Putih, menambah kesan profesional dan gagah dalam barisan.

Proses latihan mereka bukan main-main. Menurut Alfresa, para siswa ini telah berlatih sejak Juni lalu. Selama tiga bulan, mereka digembleng fisik dan mental, mengulang setiap gerakan hingga sempurna. Dari baris-berbaris, formasi, hingga cara melipat dan membentangkan bendera, semuanya dilakukan dengan presisi tinggi. “Semoga latihan keras yang mereka lakukan selama tiga bulan, mampu menjalankan tugasnya dengan baik pada saat pengibaran dan penurunan bendera merah putih di Hari Kemerdekaan RI ke-80 tahun,” harap Alfresa.

Pengukuhan ini menjadi puncak dari perjuangan panjang. Mereka tidak hanya dilatih untuk mengibarkan bendera, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai kebangsaan, patriotisme, dan kedisiplinan. Bendera Merah Putih yang mereka pegang bukan sekadar kain, melainkan simbol perjuangan dan kehormatan bangsa.

Hari esok, saat Sang Saka Merah Putih berkibar di langit Pandeglang, di tangan para pemuda-pemudi ini, akan menjadi saksi bahwa semangat kemerdekaan tak pernah luntur. Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, melainkan peneguhan janji para pemuda untuk terus berbakti pada Ibu Pertiwi. (Didi)