Oleh: Syamsurijon

Di bawah langit pesisir Kepulauan Mentawai, peringatan Hari Bhayangkara ke-80 menjadi panggung refleksi penting bagi Korps Perunggu. Di balik formalitas upacara dan kemeriahan atraksi budaya, Polres Kepulauan Mentawai memikul tantangan besar: merawat kepercayaan publik di tengah potensi wisata ombak dunia sekaligus membentengi generasi muda dari ancaman sosial.

Matahari pagi baru saja meninggi di Sipora Utara, Kepulauan Mentawai, ketika ratusan personel gabungan berdiri tegap di Lapangan Sekretariat Kantor Bupati, Kilometer 4,5. Di bawah langit pesisir pada Rabu, 1 Juli 2026, Polres Kepulauan Mentawai menggelar upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80.

Kapolres Kep.Mentawai
AKBP Rory Ratno. A SE,MM,M.Tr.Opsla
memberikan Hadiahke 1 Pada
kejuaraan E.Sport Mobile Legend5

Upacara hari jadi Korps Perunggu di salah satu beranda terdepan Indonesia ini berlangsung khidmat. Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Kapolres Kepulauan Mentawai AKBP Rory Ratno A., memimpin barisan yang tidak hanya diisi oleh personel Polri, melainkan juga prajurit TNI, Satpol PP, Damkar, Kantor SAR, hingga jajaran BPBD setempat.

Di balik formalitas parade, perayaan sewindu usia Polri di Bumi Sikerei ini membawa pesan kuat dari Jakarta: tentang krusialnya menjaga muruah institusi di mata masyarakat.

Senjata Terkuat: Kepercayaan Rakyat

Saat membacakan amanat tertulis Presiden RI Prabowo Subianto, AKBP Rory Ratno menekankan kembali esensi tema besar tahun ini, yaitu “Polri untuk Masyarakat”. Di tengah sorotan publik terhadap institusi kepolisian secara nasional, pesan Presiden Prabowo yang dibacakan di Mentawai terdengar sebagai sebuah pengingat yang karib sekaligus tegas.

“Teruslah menjaga kepercayaan publik, kepercayaan rakyat. Karena kepercayaan adalah senjata terkuat seorang polisi,” ujar Rory meneruskan pesan Presiden.

Dalam amanat tersebut, ditekankan pula bahwa operasional kepolisian dibiayai oleh pajak rakyat. Oleh sebab itu, polisi dilarang menyakiti hati masyarakat. Presiden juga menegaskan tidak boleh ada pihak yang merasa kebal hukum, di samping memaparkan capaian ketahanan pangan nasional serta kesiapan dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh pelosok negeri.

Antara Patahnya Besi dan Dongeng Berbahasa Inggris

Usai prosesi formal yang kaku, lapangan upacara berubah menjadi panggung pertunjukan budaya dan ketangkasan. Anggota Polres Mentawai memamerkan kemahiran bela diri karate, mulai dari jurus komando menghadapi lawan hingga atraksi ekstrem mematahkan besi pompa yang diperagakan oleh kombinasi karateka senior dan junior.

Namun, yang mencuri perhatian justru riuh suara anak-anak muda Mentawai. Pihak Polres sengaja menggelar lomba bercerita legenda nusantara berbahasa Inggris (English Storytelling Contest). Siswa-siswi dari SMA Negeri 1 Sipora, SMAN 2 Sipora, SMAN Sikabaluan, dan SMAN Sikakap bergantian naik panggung. Mereka melafalkan kisah Malin Kundang, Danau Toba, hingga legenda lokal Sikakap dan Sibeurut dengan bahasa internasional yang fasih.

Keluar sebagai pemenang utama adalah Sakela, siswi SMAN 2 Sipora, yang membawakan narasi takdir tragis Malin Kundang dari Pantai Air Manis. Atas kelincahannya berbahasa Inggris, Sakela langsung menerima hadiah tunai Rp1 juta dari Kapolres.

Apresiasi juga diberikan kepada aparatur desa yang dinilai berkontribusi menjaga stabilitas keamanan. Kepala Desa Sipora Jaya, Lutfianto, dan Kepala Desa Sidomakmur, Syoib, berdiri bangga menerima penghargaan khusus atas dedikasi mereka dalam pelayanan masyarakat.

Menjual Ombak, Menumpas Predator Anak

Puncak refleksi Hari Bhayangkara bergeser ke Gedung Pertemuan Sekretariat Daerah saat sesi ramah tamah dimulai. Di hadapan jajaran Forkopimda—termasuk Ketua DPRD Mentawai Ibrani Sababalat dan Sekda Martinus Dahlan—Kapolres Rory Ratno membedah potret masa depan sekaligus tantangan kelam yang sedang dihadapi kepulauan ini.

Rory mengaku optimistis dengan masa depan ekonomi Mentawai yang bertumpu pada industri selancar.

“Semua negara di dunia berdatangan ke Mentawai untuk melihat ombaknya. Bahkan banyak yang mau tinggal dan berinvestasi di sini. Kita harus bersama-sama memanfaatkan potensi sumber daya alam ini,” tutur Rory.

Namun, di balik pesona ombak kelas dunia itu, Mentawai masih menyimpan kerentanan sosial yang menyayat hati. Dengan nada bicara yang mendalam, Kapolres memaparkan keberhasilan jajarannya membongkar kasus kekerasan seksual massal di Siberut. Sebanyak 16 siswa sekolah menjadi korban kebejatan seorang penjaga perpustakaan sekolah.

“Kita berharap hal kelam ini tidak terjadi lagi. Syaratnya, kita harus berhati-hati. Orang tua wajib mengontrol ketat penggunaan ponsel pintar (handphone android) anak-anak mereka di rumah,” tegas Rory.

Sebagai solusi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan dan kerentanan sosial, Polres Mentawai mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Selain menjalin kerja sama dengan kampus elite seperti ITB Bandung yang tahun ini sudah mulai menerima anak-anak asli Mentawai Rory mengajak pemerintah daerah mempersiapkan pemuda setempat agar mampu menembus seleksi Taruna Akmil maupun Akpol. Apresiasi tinggi pun datang dari parlemen.

Ketua DPRD Mentawai, Ibrani Sababalat, menyatakan terima kasih atas kerja keras Polres dalam menekan penyakit masyarakat dan menjaga stabilitas keamanan (Kamtibmas). Sebuah modal krusial jika Mentawai benar-benar ingin bersiap menyambut investasi dunia di atas gulungan ombaknya.